Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 Oktober 2012
Revolusi Industri Di Inggris
Pada zaman pertengahan Inggris masih merupakan
sebuah wilayah yang terbelakang. Saat itu Inggris hanya mempunyai satu kota
penting: London. Selebihnya wilayah Inggris hanya wilayah pedesaan yang
sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Walaupun demikian sumber
utama pendapatan Inggris dari kerajinan bulu domba sebagai bahan wol merupakan
bulu domba yang menjadi bahan mentah utama bagi pusat-pusat industri kain wol
di Italia Utara dan Vlaanderen.
Pada saat itu kebutuhan masyarakat Inggris belum
begitu banyak sehingga kebutuhan akan sandang, pangan dan papan dapat dipenuhi
oleh masingmasing keluarga. Pada saat itu perdagangan belum berkembang. Kegiatan
tukar menukar barang masih dalam skala kecil dengan jangkauan wilayah yang
relatif terbatas.
Hal tersebut disebabkan karena satu keluarga hanya
menghasilkan barang untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Produksi mereka tidak dimaksudkan
untuk dijual kepada orang lain, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Perilaku seperti ini merupakan salah satu ciri dari masyarakat
tradisional.
1. Kondisi Masyarakat Inggris Sebelum
Revolusi Industri
Pada abad ke-16 dan ke-17 kondisi negara-negara
Eropa selain Inggris selalu dalam keadaan peperangan dan perselisihan.
Akibatnya banyak usahawan dan para tukang dari pusat industri berdatangan ke Negara
yang aman dan tidak terlalu bergejolak. Salah satu dari negara yang tidak
terlalu bergejolak tersebut adalah Inggris. Sebagian besar usahawan tersebut
menetap di Inggris. Sementara kedatangan para pengusaha dan tukang tersebut
telah mendatangkan keuntungan bagi perekonomian Inggris. Hal tersebut ditandai
dengan maraknya industri rumahan (home industry).
Benda-benda yang dibuat oleh industri rumahan
tersebut adalah senjata, perhiasan, perabot rumah tangga dan alat kerja.
Meskipun demikian mereka belum menghasilkan barang dalam skala besar. Mereka
hanya membuat barang apabila ada pesanan. Melalui usaha yang masih terbatas tersebut
masyarakat Inggris tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang bermodal. Golongan
masyarakat pemilik modal ini yang nantinya disebut sebagai kaum kapitalis.
Para pemilik modal ini mendirikan tempat kerja baru
dengan mekanisme kerja yang baru pula. Para pemilik modal membuat gedung yang
luas dan dilengkapi alat kerja. Proses pengoperasian alat kerja tersebut masih
dikerjakan oleh manusia (manufaktur). Pada manufaktur ini masih banyak tenaga
yang dipekerjakan dengan upah yang rendah. Hal tersebut disebabkan karena pekerjaan
mereka tidak memerlukan latihan dan keahlian yang tinggi.
Pekerjaan pada manufaktur masih bisa dilakukan menggunakan
tangan dan sama sekali tidak menggunakan alat. Berdirinya manufaktur tersebut
telah menggeser industry rumahan yang sebelumnya cukup banyak di Inggris.
Akibatnya para pemilik industri rumahan mulai mengalihkan usahanya ke manufaktur.
Berkembangnya industri manufaktur ini sangat menguntungkan
perekonomian Inggris dan sekaligus membuka peluang terjadinya Revolusi
Industri. Kebutuhan akan alat-alat pada manufaktur tersebut telah mendorong
masyarakat Inggris untuk mencari solusi. Maka ditemukanlah banyak alat yang
dapat mempermudah pekerjaan pada menufaktur-manufaktur yang telah berdiri.
2. Faktor-faktor yang Melatarbelakangi
Revolusi Industri
Revolusi bisa diartikan sebagai perubahan secara
cepat atau perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang atau di suatu tempat.
Sementara Industri artinya proses membuat ataumenghasilkan suatu barang.
Perubahan yang terjadi di Inggris pada abad ke-18 merupakan perubahan dalam
memproduksi barang-barang dari penggunaan tenaga manusia kepada mesinmesin. Jadi
Revolusi Industri adalah perubahan cara membuat atau menghasilkan barang yang
semula menggunakan tenaga manusia beralih ke tenaga mesin.
Penemuan James Watt merupakan
awal mula munculnya Revolusi industri di Inggris terjadi pada tahun 1763. Watt
adalah seorang insinyur yang berasal dari Skotlandia. Dalam perjalanan dan
perkembangan sejarah manusia, penemuannya ini kemudian dianggap sebagai
penemuan pertama yang berhasil membuat alat kerja dengan tenaga mesin.
Sebenarnya James Watt hanya memodifikasi mesin uap
buatan Thomas Newcomen yang dianggap memboroskan bahan bakar dan bertenaga
kecil. James Watt kemudian menemukan kondensator (alat
untuk memadatkan uap) sehingga mesin uap Thomas Newcomen menjadi hemat. James
Watt terus memperbaiki mesin uapnya sehingga mesin uap Thomas Newcomen mulai
dilupakan orang dan mesin uap James Watt semakin dikenal orang. Dalam
perkembangan sejarah berikutnya, mesin uap James Watt nantinya dipakai dalam kegiatan
industri.
Dalam perkembangan selanjutnya. Watt menjadi
motivator untuk para ahli lainnya menemukan alat-alat untuk membantu manusia
dalam menyediakan kebutuhan hidup yang tidak hanya sekedar mengendalkan
tangan-tangan manusia. Penemuan pada periode ini kemudian telah mengantarkanm
kepada sejarah baru umat manusia. Kemunculan Revolusi Industri dilatarbelakangi
oleh berbagai hal, di antaranya:
a. Dalam Bidang
Politik
Pada abad ke-17 di Inggris terjadi peperangan yang
dahsyat antara bangsawan kuno dengan bangsawan baru yang dikenal dengan Pera4ng Mawar. Dalam peperangan tersebut bangsawan baru muncul
sebagai pemenang. Mereka berhasil menguasai kursi pemerintahan dan selanjutnya
mengendalikan negara Inggris.
Berbeda dengan bangsawan kuno yang terkesan mewah
dan boros, kaum bangsawan baru lebih menampilkan diri sebagai kelompok masyarakat
yang berpikiran maju. Bangsawan baru ini terdiri dari para bangsawan rendah,
petani kaya, pedagang sukses dan para tuan tanah pemilik modal. Dalam
menjalankan pemerintahan golongan ini lebih mengutamakan perekonomian daripada kepentingan
politik belaka.
Kemenangan bangsawan baru telah memberikan angin
segar untuk kemajuan Inggris karena focus perhatian mereka tertuju kepada
perekonomian, tidak lagi politik yang menjadi pusat perhatian bangsawan kuno.
Perdebatan politik yang terus-menerus kadang menghalangi kemajuan yang dicapai.
b. Dalam Bidang
Sosial-Ekonomi
Pada abad 18 pemerintah Inggris mengeluarkan
kebijakan menyangkut pengaturan status tanah. Pengaturan kembali tanah pertanian
di Inggris dikenal sebagai Revolusi Agraria. Revolusi diawali dengan cara
menukar tanah yang terpencar-pencar milik para bangsawan dengan tanah petani di
sekitarnya.
Melalui cara ini tanah bangsawan menjadi luas,
sebaliknya para petani mendapatkan tanah yang letaknya jauh dan kurang
produktif. Tidak jarang di antara para petani terpaksa meninggalkan tanahnya
atau terusir tanpa mendapatkan tanah hasil tukarannya. Selanjutnya para bangsawan
tersebut menjadikan tanahnya sebagai lahan peternakan domba atau industri.
Banyaknya tanah pertanian yang berubah menjadi
daerah peternakan dan industri berkaitan dengan banyaknya permintaan kain wol
dan katun dari pasaran Eropa. Hal ini benar-benar telah mengokohkan para
bangsawan atau para pemilik modal untuk menggeluti bidang industri dan
peternakan. Apalagi para pengusaha di Inggris semakin diuntungkan dengan tenaga
kerja yang murah.
Tenaga kerja murah di Inggris terdiri dari para
petani yang telah kehilangan tanah dan mata pencahariannya, termasuk juga kaum
urban yang menyerbu kota-kota di Inggris karena perkembangannya sebagai wilayah
industri cukup menggiurkan. Manufaktur yang berdiri di Inggris banyak
menghasilkan barang-barang yang terbuat dari logam seperti cangkul, pisau, wajan,
dan lainnya.
Peralatan dari besi tersebut dibuat setelah dileburkan
ke dalam panas 1000 derajat celcius dengan bahan bakar kayu. Dengan berjalanya
kondisi alam yang semakin membahayakan, pemerintah Inggris kemudian melarang penggunaan
kayu sebagai bahan bakar karena dapat membahayakan ekosistem hutan. Sebagai
gantinya digunakan batubara yang di Inggris berlimpah.
Melalui ilmu pengetahuan yang sudah cukup maju batu
bara tersebut diubah menjadi cokes, yaitu proses yang agak mirip dengan
membuat arang menjadi kayu. Cokes telah membuka kemungkinan untuk
mengembangkan industri besi menjadi cikal bakal perkembangan industri di
Inggris.
Pada abad ke-18 pemerintah Inggris mulai menikmati
hasil dari kemakmuran negerinya. Marak dan berkembangnya Industri manufaktur di
Inggris ternyata diikuti dengan meningkatnya permintaan masyarakat Eropa.
Selain itu permintaan akan barang Inggris semakin luas seiring dengan semakin
luasnya jajahan Inggris, baik di Afrika maupun di Asia. Kemajuan kegiatan industri
yang masih menggunakan tenaga kerja itu telah melahirkan kaum kapital di
beberapa tempat dan kota di Inggris.
c. Dalam Bidang
Iptek dan Budaya
Sejak zaman Renaisans perhatian dan minat masyarakat
Inggris terhasap ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar. Orangorang saling
berlomba mengadakan pembaharuan dalam segala bidang dan mulai meninggalkan
sesuatu yang dianggap kuno. Masyarakat Inggris sangat tertarik dengan
penelitian-penelitian terbaru dalam segala hal, termasuk industri.
Pada abad ke-17 di London sudah berdiri perhimpunan yang
bertujuan memajukan ilmu terutama matematika dan fisika. Hasil penelitian
ilmiah tidak hanya dijadikan rumusan atau teori belaka tetapi juga diterapkan
bagi peningkatan kesejahteraan hidup umat manusia, terutama bagi kemajuan masyarakat
Inggris.
Perangkat teknologi yang berhasil meningkatkan industry
pertekstilan di Inggris adalah alat pintal dan alat tenun. Alat pintal adalah
alat yang dapat memilih benang dari bahan kapas sedangkan alat tenun adalah
alat pembuat kain dengan bahan dasar benang. Orang yang berhasil menciptakan
alat tenun adalah John Kay (1733). Alat tersebut diberi nama Flying Shuttle (pintalan terbang).
Alat ini mampu bekerja lebih cepat dan dapat melebarkan
kain sesuai dengan yang diinginkan pembuatnya. Sedangkan yang menemukan alat
pintal adalah Hargreaves (1762). Alat ini kemudian diberi nama Spinning Jenny. Alat penemuan Hargreaves ini dapat memintal
berpuluh-puluh gulung benang sekaligus.
Pada perkembangan selanjutnya Inggris mampu mengembangkan
ilmu pengetahuannya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya penemuan alat-alat
baru yang menggunakan tenaga mesin. Atas penemuan-penemuan tersebut, maka pada
abad ke-18 oleh Inggris sering dijuluki sebagai abad penemuan. Berikut ini
beberapa penemuan yang terjadi di Inggris pada abad ke-18.
3. Proses dan Dampak Perkembangan Revolusi
Industri
Revolusi industri telah menimbulkan perubahan besar
dalam tatanan kehidupan masyarakat Inggris. Revolusi Industri memberikan bermacam
dampak positif dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan ilmu pengetahuan.
Secara umum, dampak revolusi industri bagi kehidupan penduduk Inggris antara
lain sebagai berikut.
a. Bidang Sosial
Pengaruh Revolusi dalam bidang Industri bagi Inggris
terlihat dari arus urbanisasi yang semakin besar di kota-kota Industri Masyarakat
di luar Inggris banyak yang tertarik untuk tinggal dan mencari nafkah di
Inggris. Akibatnya pengangguran dan tindak kriminalitas banyak muncul dan
meningkat.
b. Bidang Ekonomi
Pengaruh Revolusi Industri dalam bidang ekonomi
ditandai dengan pembangunan daerah-daerah industri dilakukan secara besar-besaran.
Revolusi industri juga berpengaruh terhadap munculnya kota-kota industri
seperti Manchester, Liverpool, dan Birmingham. Kemunculan kota-kota industri
tersebut merupakan satu keniscayaan ketika industri berkembang.
Perkembangan pesat dalam bidang industri ternyata
tidak hanya bersifat kuantitas melainkan juga berpengaruh terhadap kualitas barang
industri yang meningkat tajam. Revolusi industri telah banar-benar mendorong
warga Inggris untuk memperbaiki segala sesuatu berhubungan dengan hasil
pekerjaan mereka.
c. Bidang Politik
Pembangunan kawasan industri muncul di berbagai
kota, sebagian besar masyarakat mulai menikmati dampak dari Revolusi Industri.
Penduduk semakin mudah dalam memperoleh kebutuhan dan barang industri. Para
pengusaha dan pemilik modal mendapatkan keuntungan yang berlimpah.secara
singkat
Revolusi Industri telah membawa pengaruh yang cukup
baik yaitu meningkatkan kesejahteraan hidup. Namun masalah timbul ketika lahan
yang dipakai untuk industri semakin sempit dan semakin sulit untuk dapat
menghasilkan bahan baku industry sendiri. Jumlah penduduk meningkat tajam
seiring dengan semakin tingginya arus urbanisasi dari para pencari pekerjaan.
Masyarakat yang tidak memiliki
keahlian menjadi pengangguran Akibatnya tidak sedikit kejahatan yang terjadi,
kriminalitas meningkat. Selain dari itu juga banyak masalah yang dihadapi: upah
yang rendah, jaminan sosial yang buruk, jam kerja yang tidak sesuai ditambah
lagi kemudian terjadinya pencemaran lingkungan yang terus dan berkepanjangan.
Revolusi Industri menimbulkan dampak yang mendorong terjadinya
revolusi sosial yaitu gerakan masyarakat yang berkeinginan mengubah kehidupan
masyarakat kepada taraf yang lebih baik. Pemerintah Inggris menanggapi keadaan
ini dengan cara mengeluarkan undang-undang Hak Asasi Manusia seperti Reform Bill 1832,
Abolition Bill 1832, dan Factory Bill 1833. Reform Bill adalah
peraturan pemerintah yang berisi tentang hak-hak yang diperoleh pekerja dalam
parlemen.
Factory Bill berisi tentang larangan penggunaan tenaga kerja
wanita dan anak-anak. Sementara Abolition Bill berisi tentang penghapusan perbudakan. Perkembangan tersebut
telah mendorong Inggris menjadi kota dengan keadaan kota semakin lama semakin
sempit. Para pengusaha dan pemilik modal kemudian mencoba memasuki wilayah desa
dan membeli wilayah di pedesaan.
Pengambil alihan tanah di pedesaan ini menyebabkan
pengaruh sosial ekonomi. Petani banyak yang kehilangan pekerjaanya sehingga
mereka berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota dengan harapan
mendapatkan pekerjaan, terbukanya lapangan kerja yang baru, mata pencaharian
yang berubah dari seorang petani menjadi peternak atau buruh, melimpahnya
barang-barang kebutuhan, dan terjadi pencemaran di kawasan industri.
Revolusi Industri di Inggris membawa perubahan
ekonomi secara mendasar yaitu peningkatan kesejahteraan hidup, terutama bagi
golongan kapitalis. Namun di balik berbagai keuntungan yang dihasilkan,
Revolusi Industri menyisakan satu permasalahan yaitu kurangnya bahan mentah
industri dan melimpahnya hasil industri.
Dari masalah di atas, para golongan pemilik modal
kemudian mencoba peruntungan dengan membuat jaringan perdagangan, selain itu
untuk mengatasi kekurangan bahan mentah, Inggris kemudian mencari kawasan dan
daerah yang dinilai memiliki potensi alam dan manusia untuk dapat dimanfaatkan
bagi kepentingan industri.
Pemikiran inilah yang nantinya akan berujung kepada
lahirnya imperialisme modern yang dimotori oleh Inggris. Ciri-ciri imperialisme
modern yaitu menguasai daerah untuk mencari bahan mentah, bahan baku, mencari tempat untuk
menanamkan modal, dan mencari tempat untuk
memasarkan hasil industri.
Tujuan ini sangat sesuai dengan kesusahan yang dialami Inggris sebagai akibat
dari Revolusi Industri.
Sejak Inggris menjadi pelopor imperialisme modern,
jajahan Inggris di Asia dan Afrika semakin luas dan banyak. Dapat dikatakan bahwa
Inggris adalah negara dengan imperialism terbesar, karena jajahanya membentang
dan terdapat di seluruh penjuru dunia. Dalam rangka mendukung keamanan daerah jajahannya
maka Inggris memperkuat armada lautnya.
Pada periode ini, Inggris merupakan negara dengan
armada lautnya yang tidak tertandingi. Negara-negara lainnya yang secara geografis
berada di Eropa banyak yang mencontoh keberhasilan Inggris, di antaranya
Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Negaranegara tersebut berlomba untuk
mendapatkan daerah jajahan yang potensial. Revolusi Industri telah melahirkan
banyak manfaat bagi kehidupan manusia.
Namun Revolusi Industri juga telah menimbulkan
munculnya sifat arogan dan serakah pada umat manusia. Tindakan bangsa yang
menjajah bangsa lainnya merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusiaan, padahal munculnya Revolusi Industri ini berangkat dari
perkembangan dan pertumbuhan Renaissans dan humanisme yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan.
Perkembangan Industrialisasi Di Indonesia Pada Masa Kolonial
Industrialisasi di Indonesia tumbuh pertama kali di
Pulau Jawa. Kegiatan industri di pulau ini relatif berkembang, dan penggunaan
uang meluas. Berbagai kegiatan ekonomi dikejar oleh masyarakat yang berkembang
menjadi aneka suku bangsa.
1. Kegiatan Perdagangan di Jawa pada Masa
Kolonial
Abad ke-17 dan sebelumnya, tanah di Jawa sangat
subur, penduduknya lebih padat dari daerah lain dan ekonominya sangat dinamis.
Di sebagian besar Indonesia sistem ladang berpindah masih sangat umum sedangkan
di Jawa sudah ada budidaya padi dengan sistem pengairan intensif. Ekonomi di
Jawa tetap dinamis meski setelah akhir abad ke-18 VOC berusaha keras mengendalikannya
secara keseluruhan.
Pada awal abad ke-17 Jawa juga merupakan pusat perdagangan
penting di Asia Tenggara. Para pedagang Jawa memasok pangan penting untuk
Malaka dan bandar-bandar seperti Surabaya, Gresik, dan Banten yang merupakan
gudang penting untuk barang-barang seperti cengkeh, lada, dan cita (kain tenun
dari kapas untuk bahan pakaian) India.
Perdagangan ini tidak surut meskipun dikendalikan
secara drastis oleh VOC. Pada abad ke-17 dua bandar yaitu Banten dan Batavia
berkembang sebagai gudang utama di Jawa. Keduanya bersaing gigih untuk secara
penuh menguasai perdagangan antarpulau, meskipun persaingan itu dimenangkan
Batavia setelah serangan militer Belanda ke Banten pada tahun 1682.
Setelah itu, perdagangan tetap penting bagi Jawa.
Harus diakui bahwa sebagian besar perdagangan penting akhir abad ke- 18 jatuh
ke tangan Belanda dan orang Cina. VOC melarang perahu Jawa berlayar ke
Indonesia Timur dan melarang berdagang barang yang sangat menguntungkan seperti
rempah, candu, cita India.
Walaupun demikian, perahu Jawa
mengangkut beras, garam, kain batik, tembakau, dan beberapa barang dalam jumlah
besar ke berbagai tempat sampai Patani dan Perak. Pada akhir abad ke-18 pun,
hampir seperlima nakhoda kapal berasal dari Jawa dan jumlah yang sama besar
terdiri atas nakhoda penduduk setempat dari pulau Indonesia lain.
Perdagangan luar negeri berkait dengan jaringan
dagang di Jawa sendiri. Angkutan terpenting melalui air, sebab tanah tidak rata
sehingga membuat sulit angkutan darat. Akibatnya, barang yang diperdagangkan
dari Jawa Tengah ke Jawa Barat mula-mula di bawa dibawa ke pantai melalui
sungai dan dari sana melalui laut. Sungai utama yang digunakan adalah Sungai
Sala dan Brantas.
Sebagian besar perniagaan dilakukan atas nama
petinggi Jawa. Keluarga istana dan bupati mempekerjakan pedagang profesional,
Jawa ataupun Cina. Pada awal abad ke-18, misalnya, desa Sala dihuni oleh
pedagang yang berniaga sepanjang sungai dan dimodali putra mahkota Mataram.
Akhir abad yang sama, putra dari putra mahkota ini mendirikan keraton di Sala.
Di kota bandar seperti Semarang, para bupati setempat memiliki rumah timbang
dan gudang yang disewakan kepada pedagang asing.
Di samping perdagangan yang didanai oleh para elit,
banyak perdagangan dilakukan sebagai usaha sampingan oleh penduduk nelayan dan
petani. Biasanya dilakukan oleh kaum perempuan, terutama di lingkungan
setempat, sehingga perempuan Madura akan menyeberang selat untuk menjual
buah-buahan di pasar Gresik.
2. Perkembangan dalam Bidang Industri
Pada awal abad ke-17, Jawa memiliki industri
galangan kapal yang luar biasa, bahkan jung besar pun dibuat di sini.
Industri pembuatan kapal tetap penting meski akhirnya sebagian diatur oleh
Belanda. Untuk industri ini, demikian juga bangunan rumah, diperlukan kayu jati
dalam jumlah besar. Demak, Jepara, dan terutama Rembang menjadi industri
penggergajian yang besar, yang melibatkan orang Kalang sebagai pekerja.
Setelah ditebang, gelondong ditarik oleh kerbau ke
sungai terdekat dan dibiarkan hanyut ke pantai. VOC langsung mengangkut kayu
gelondong ini ke Batavia dengan kapal. Di Juwana, Jepara, dan Semarang, orang
Cina dan Jawa mendirikan pengolahan kayu dalam sejumlah penggergajian. Dari
sini, papan, tong, perabot rumah tangga, dan dayung dikirim ke Batavia dan
tempat lain di Indonesia.
Pembuatan kain batik terpusat di keraton Jawa dan
kota terdekat seperti Banten, Semarang, dan Kudus. Di keraton, kain dibuat dan
dicelup di tempat pembatikan besar milik beberapa istri pejabat dan perempuan
lain. Di dalam dan sekitar kota Pantai Utara, batik dibuat oleh perempuan
petani di rumah mereka, bekerjasama dengan pedagang Cina. Batik Jawa bermutu
tinggi dengan harga yang tidak mahal, dibutuhkan dalam jumlah besar oleh
penduduk pulau lain di Nusantara.
Pada abad ke-17 dan ke-18 berbagai tanaman baru
untuk ekspor diperkenalkan di Jawa dengan berhasil. Tanaman utama adalah kopi,
tembakau, nila, dan tebu. Dengan pergeseran dari tanaman rempah ke tanaman baru
ini, titik perekonomian ekspor daerah lebih meningkat di pulau Jawa. Sekitar
tahun 1650 pusat penghasil gula tradisional seperti Cina Selatan dan Taiwan
dilanda perang sipil. Cina-Jawa mengisi celah yang timbul sebagai hasil
pembangunan pabrik gula di daerah sekitar Batavia dan Jepara.
Pada awal abad ke-18 Jawa memiliki lebih kurang 140
pabrik, menjadikannya penghasil gula tebu terbesar di Asia, yang dijual ke
Jepang, Persia, India, dan Belanda. Ribuan laki-laki Jawa dari Jawa Tengah
pindah ke daerah sekitar Batavia untuk bekerja di kebun tebu dan pabrik gula.
Adapun, daerah lain di Jawa mengkhususkan diri dalam pembiakan kerbau yang
diperlukan untuk menggerakkan pabrik.
Pada masa modern awal, Jawa dikenal sebagai
penghasil padi dalam jumlah besar, sekitar tahun 1800-an diekspor ke pulau lain
di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Sekitar tahun 1800-an,
kedudukan padi sebagai barang ekspor digantikan kopi yang bernilai, dan secara
cepat diganti dengan gabungan tanaman kopi, nila, dan gula.
Tanaman perdu yang menghasilkan kopi diperkenalkan
Belanda pada akhir abad ke- 17. Pertengahan tahun 1700-an, tanaman ini disebar
ke Jawa, Sumatera, termasuk pulau lainnya. Sebetulnya tanaman ini pertama kali
ditanam oleh VOC dan perantara mereka, dengan pandangan untuk memperoleh
keuntungan bagi perdagangan ke Eropa.
Pertengahan abad ke-19 kopi ditanam besar-besaran
sebagai tanaman menguntungkan bagi pemerintah di bawah bantuan “tanam paksa”.
Sistem ini yang dibuat tahun 1830-an, memungkinkan pemerintahan jajahan Belanda
abad ke-19 mendapat cadangan hasil ekspor melalui kerja paksa rakyat Jawa. Setelah
penghapusan sistem ini dilakukan secara “bertahap” (tahun 1860-an dan akhirnya
dihapus secara keseluruhan pada permulaan abad ke-20) kopi tetap ditanam oleh
sebagian pemegang saham kecil Indonesia dan para pemilik lahan dikelola oleh
penjajah Eropa, mempertahankan tempat penting di antara barang ekspor hingga
berakhirnya masa penjajahan.
Industri gula tebu di Indonesia pada awal periode
modern sangat terbatas hanya di Pulau Jawa yang terdapat tanah vulkanik subur
dan buruh siap pakai. Paduan ini, bersama persekutuan simpatik dengan
pemerintah jajahan Belanda, membawa industry gula Indonesia ke baris depan
dalam ekonomi gula dunia menjelang abad ke-19. Hanya Kuba yang memproduksi dan mengekspor
gula tebu lebih dari Jawa.
Sejak tahun 1830-an ke atas, (kemudian di sekitar
kota Jakarta, tanaman lain yang telah digarap sejak abad ke-17 diganti tanaman
tebu) seluruh tanah subur dan daerah padat penduduk di Jawa Tengah atau Jawa Timur
diselimuti oleh jaringan besar dan industri pabrik gula yang meluas. Menjelang
tahun 1850-an jumlah pabrik gula sudah mencapai ratusan, dan pada akhir abad
ini jumlahnya hamper dua kali lipat.
Perkembangan tersebut, bagaimanapun, mahal harganya.
Pabrik dan terutama pemilik Belanda serta pengelola, menguasai desa di sekitar
pabrik dan membentuk sistem perkebunan menurut kehendak mereka dan bukan
menurut alam Indonesia. Mungkin gula membawa kesempatan kerja bagi bagi
masyarakat pedesaan Indonesia, jumlah pencari kerja bertambah dan lapangan kerja
langka di pedesaan. Di pihak lain, bagi pemilik tanah kecil, gula menjadi
kesempatan sekaligus ancaman.
Dengan dihapusnya Sistem Tanam Paksa, pemilik tanah
tidak dipaksa pemerintah menanam tebu untuk pabrik gula. Sebaliknya, pengelola
pabrik bergerak dalam perniagaan dengan menyewa tanah petani miskin untuk
menanam tebu (di samping mereka juga mengambil alih pengerahan tenaga kerja
untuk menanam, memanen, dan mengangkut tebu).
Gagasan “kemerdekaan” bagi keberadaan petani pemilik
tanah masuk ke dalam susunan pabrik gula, segera terkikis karena memuncaknya
hutang di pedesaan Jawa abad ke- 19 dan apapun kewenangan “tradisional” tetap
dijalankan oleh kepala desa (dan orang lain, seperti pemilik tanah luas di
pedesaan) yang sering bekerjasama dengan industri gula.
Di bawah keadaan seperti ini, terjadi penyimpangan
dalam prioritas perkembangan, karena pemusatan yang ditujukan pada jatah ekspor
yang mudah, seperti yang terjadi tahun 1880-an dan terulang tahun 1930-an,
menurun dalam pasar dunia. Keadaan “boom dan krisis” (bersekutu dengan
kepemilikan internasional Belanda sebelumnya) pertanda buruk bagi dunia modal
pertanian Indonesia jangka panjang seperti yang terjadi di Asia, terutama Jepang.
3. Perkembangan dalam Bidang Teknologi
Secara budaya, abad ke-19 merupakan jembatan ke dunia
modern. Pada bagian akhir abad tersebut Indonesia mengalami paduan kental
perkembangan ekonomi, urbanisasi, dan revolusi dalam perhubungan. Pada akhir
abad tersebut telah ada lembaga budaya penting yang akan membawa Indonesia ke
modernisasi.
Mesin cetak, kapal api, rel kereta, dan telegraf member
sumbangan perubahan dalam waktu dan ruang yang dicitrakan dan bagaimana citraan
ini dikaitkan. Lingkungan kota dengan aneka suku dan hubungan tercetak juga
mulai mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri dalam masyarakat.
Sebagaimana kemajuan abad ke-19, tenaga uap membuat angkutan—baik
darat maupun laut—lebih cepat dan lebih teratur. Dengan pembukaan Terusan Suez
(1869) berarti bahwa jarak antara Eropa dan tanah suci Islam lebih mudah
dicapai. Tahun 1880, Nusantara sibuk dengan kapal-kapal api kecil dan
perjalanan kapal api teratur menguasai perjalanan orang Eropa. Tahun 1860- an,
rel kereta mulai menggantikan angkutan yang dihela kuda di jalur utama Jawa.
Baik kapal api maupun kereta api memungkinkan
terwujudnya layanan pos umum yang teratur, dan berjalan dengan perangko pos
pra-bayar dan kantor pos di kota besar Jawa tahun 1862. Dalam beberapa
dasawarsa, tiba-tiba dimungkinkan berhubungan jarak jauh dan pergi dengan ketenangan
dan kepercayaan lebih besar.
Cakrawala dunia lebih luas, pergerakan fisik lebih
besar, dan lingkungan nontradisional kehidupan kota mendukung jenis sastra
baru. Yang paling awal ditulis dalam bahasa Melayu oleh Abdullah bin Muhammad
al-Misri (1823) dan Abdullah bin Abdul Kadir (1838). Kisah perjalanan merupakan
tema lama, namun cerita-cerita ini dimasukkan ke dalam orang pertama, yang mengaitkan
sudut pandang orang-orang istimewa, orang-orang kota, dan kaum pinggiran pada
masyarakat tradisional.
Perluasan pertanian komersial, terutama gula di
Jawa, memerlukan prasarana industri pabrik dan rel kereta yang mendukung bandar
utara Jawa seperti Semarang dan Surabaya. Pertumbuhan cepat pusat perniagaan
kota ini, bersama dengan jaringan angkutan pedalaman dan sistem pos, mendukung revolusi
besar perhubungan abad ke-19: kemunculan koran.
Teknologi percetakan pertama datang ke Hindia tahun
1659, namun baru pada abad ke-19 sejumlah besar dicetak dalam bahasa Indonesia
oleh markas penginjil Protestan di Straits Settlements (1817), Ambon (1819),
dan Batavia (1822). Pembacanya terbatas, dan penguasa Belanda yang menyadari
bahaya teknologi tersebut tetap menangani secara bebas sampai tahun 1848.
Keadaan berubah pada tahun 1855 dengan peluncuran
surat kabar mingguan Jawa di Surakarta. Bromartani, dipimpin
oleh orang Indo-Eropa, G.F. Winter, memuat berita keagamaan mengenai kelahiran
dan kematian, penjualan dan pelelangan, peristiwa istana, keputusan, dan
ketetapan pemerintah, bersama artikel tentang kemajuan pertanian dan kutipan
karya sastra.
Tahun berikutnya, Soerat Kabar Bahasa Melaijoe, yang merupakan perintis banyak surat kabar komersial yang
berpusat di bandar Jawa Utara selama sisa abad tersebut, diluncurkan di Surabaya.
Semula perhatiannya pada iklan, harga pasar terbaru, dan informasi perkapalan. Bintang Timor, yang terbit dua kali seminggu di Surabaya tahun
1861, merupakan surat kabar pertama yang memberitakan persoalan setempat
termasuk keadaan social dan ekonomi, memuat “berita dari surat” yang
berhubungan dengan Eropa dan Cina.
Jumlah pembaca surat kabar Melayu dan Jawa ini
mencerminkan persebaran keberaksaraan dan pendidikan gaya Barat yang terbatas,
sebagian besar masyarakat kota, terutama orang Cina dan priyayi bergaji. Pada
dasawarsa pertama, surat kabar dicetak oleh orang Indo-Eropa, dengan orang Cina
yang datang menguasai kepemilikan tahun 1880-an, dan kepemilikan pribumi
menjadi sangat berarti baru abad ke-20.
Dari semua dampak yang ditimbulkan oleh
industrialisasi terhadap bangsa Indonesia pada masa kolonial, ada sisi positif yang
dapat kita ambil manfaatnya. Pada masa itu, Indonesia mengalami paduan kental
perkembangan ekonomi, urbanisasi, dan revolusi dalam perhubungan. Seperti telah
dijelaskan di atas, hadirnya mesin cetak, kapal api, rel kereta, dan telegraf member
keuntungan terhadap bangsa Indonesia.
Dampak Revolusi Industri Terhadap Perkembangan Sosial, Ekonomi, Serta Demografi Di Indonesia Pada Masa Kolonial
Revolusi Industri sebagai salah satu revolusi
penting dunia juga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap Indonesia.
Secara garis besar Revolusi Industri memiliki pengaruh yang positif dan negatif.
Antara keduanya saling berhubungan satu sama lainnya. Berikut ini adalah dampak
Revolusi Industri terhadap perkembangan sejarah Indonesia.
1. Dalam Bidang Politik
Betapapun Revolusi Industri tidak terjadi di
Belanda, namun sebagai negara yang memiliki kesamaan karakter, Belanda menjadi
pengikut revolusi juga. Imbas terhadap Indonesia sebagai negara jajahan Belanda
adalah lahirnya imperialisme modern di Indonesia yang diusung oleh Belanda.
Selain itu, Inggris sebagai lokomotif imperialisme
modern memiliki kepentingan tersendiri dengan wilayah Indonesia yang benar-benar
kaya sumber daya alam. Peralatan-peralatan yang ditemukan di Inggris
membutuhkan begitu banyak bahan untuk diolah. Inggris sebagai negara dengan
kekuatan imperialisme yang besar ternyata berseteru dengan pihak Belanda,
sampai akhirnya peperangan yang terjadi antara Prancis dan Inggris dimenangkan oleh
Inggris.
Secara langsung Indonesia diserahkan kepada Inggris.
Dalam sejarah kolonialisme Indonesia, kita mengenal Thomas Stamford Raffles yang merupakan utusan Inggris untuk menjadi Gubernur
Jenderal di Hindia Belanda. Untuk empat tahun Indonesia dipimpin oleh
imperialisme Inggris. Sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa, khususnya Belanda
ke Indonesia telah membawa perubahan yang sangat signifikan.
Pola perdagangan monopoli yang dipraktekkan oleh VOC
(kolonial Belanda) menjadikan tersentralisasinya kekuasaan di tangan penguasa
asing. Imbas terbesar bagi para penguasa pribumi (raja/sultan) adalah hilangnya
hak kekuasaan sebagai penguasa lokal. Karena mereka dijadikan oleh pemerintah kolonial
Belanda sebagai pegawai negeri yang mendapat gaji dari pemerintah kolonial.
Padahal menurut aturan adat, penguasa pribumi mendapat upeti langsung dari
rakyat.
Hal ini terjadi setelah para penguasa-penguasa
pribumi tidak mampu mempertahankan wilayah kekuasaannya dari penetrasi orang-orang
Eropa yang berupaya menguasai wilayah-wilayah di Indonesia untuk menjalankan
politik dagang monopolinya. Pada akhirnya, dengan diterapkannya sistem
pemerintahan baru (pemerintahan kolonial), para raja/sultan semakin kehilangan peranannya
dalam mengatur kebijakan politiknya, sedangkan pemerintahan kolonial semakin
kuat.
2. Dalam Bidang Ekonomi dan Industrialisasi
Salah satu akibat dari munculnya Revolusi Industri
adalah munculnya praktik kapitalisme dalam hal ekonomi. Ideologi kapitalisme
berpendapat bahwa untuk meningkatkan pendapatan perlu ditunjang dengan jumlah
modal atau kapital yang banyak, penguasaan sektor produksi, sumber bahan baku
dan ditribusi. Indonesia atau pada saat itu bernama Hindia Belanda memiliki sumber
daya alam yang hasilnya sangat laku di pasaran dunia.
Penemuan-penemuan teknologi baru telah mengantarkan
wilayah Hindia Belanda menjadi incaran negara-negara maju dalam teknologi
tersebut. Akhirnya perekonomian rakyat diperas, tetapi pemerintahan tidak pernah
mampu memberikan kesejahteraan tersendiri untuk Indonesia. Indonesia menjadi
lahan baru untuk para kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan.
Imperialisme modern telah mampu mengeruk ekonomi Indonesia
dengan keuntungan yang gilang gemilang di tangan para imperialis, sementara
rakyat menjadi kuli di rumahnya sendiri. Bangsa Indonesia sempat dikenalkan
dengan beberapa sistem perekonomian dari dunia Barat, namun kerugian yang diderita
oleh Indonesia jauh lebih besar ketimbang keuntungan yang dihasilkan.
Perubahan mendasar terjadi ketika Indonesia
mengalami masa sistem ekonomi liberal dan tanam paksa. Pada era ini rakyat diharuskan
melakukan kegiatan ekonomi berupa pengolahan perkebunan yang cenderung hanya
memperhatikan pada kebutuhan orang-orang Eropa saja, sedangkan kebutuhan rakyat
pribumi, seperti pertanian, menjadi terabaikan.
Pada masa pemerintahan Raffles, dengan politik sewa
tanahnya yang diilhami dari pengaruh paham liberal, rakyat Indonesia belum paham
sepenuhya dengan sistem ekonomi uang. Sehingga system land rente dianggap mengalami kegagalan, karena rakyat masih terbiasa
dengan sistem ekonomi tertutup, dimana pembayaran pajak belum sepenuhnya dengan
uang tetapi in natura. Faktor utama lainnya yang dianggap sebagai biang
kegagalan liberalisasi ekonomi Indonesia adalah masih kuatnya praktik budaya feodalisme.
Setelah Indonesia kembali menjadi jajahan Belanda,
di bawah pengawasan Gubernur Jenderal van Den Bosch yang beraliran konservatif, diterapkan sistem tanam paksa yang
bertentangan dengan sistem sewa tanah sebelumnya. Hal ini, menurut van Den Bosch,
dikarenakan kondisi realitas Indonesia yang bersifat agraris, seperti halnya
keadaan negara induk (Belanda) yang juga masih bersifat agraris.
Walaupun keadaan di Eropa, rentang waktu 1800–1830,
sedang muncul pertentangan pemikiran, antara liberalis dan konservatis telah
mengakibatkan kegamangan dalam pelaksanaan pemerintahan di negara jajahan.
Tetapi satu hal yang perlu dipahami, baik konservatif yang akan meneruskan system
politik VOC atau liberalis yang ingin meningkatkan taraf hidup rakyat, dalam
tujuannya sama-sama menginginkan daerah jajahan perlu memberi keuntungan bagi
negeri induk.
Keadaan ekonomi rakyat Indonesia semakin parah,
seiring dengan diberlakukannya kebijakan Politik Pintu Terbuka. Hal ini
menjadikan jiwa-jiwa wirausaha semakin menghilang, karena para petani, pedagang
yang kehilangan lapangan sumber mata pencahariannya beralih menjadi buruh di
perusahaan-perusahaan swasta asing.
Kondisi ekonomi bangsa Indonesia saat itu sangat menyedihkan.
Hal itu dapat dilihat pada awal abad ke-20, diketahui bahwa penghasilan
rata-rata sebuah keluarga di Pulau Jawa hanya 64 gulden setahun. Dengan
penghasilan yang sangat sedikit itu, mereka harus melakukan berbagai kewajiban,
antara lain untuk urusan desa. Hal itu menggambarkan betapa miskinnya rakyat
Indonesia, padahal Indonesia memilki kekayaan alam yang melimpah.
Selama masa tanam paksa, pemerintah Belanda
memperoleh keuntungan ratusan juta gulden. Keuntungan yang diperoleh itu semuanya
digunakan untuk membangun negeri Belanda. Tidak ada pemikiran untuk menggunakan
sebagian keuntungan itu bagi kepentingan Indonesia. Kemiskinan yang diderita
rata-rata rakyat Indonesia adalah akibat politik drainage (politik pengerukan kekayaan) yang dilakukan pemerintah
Belanda untuk kepentingan negeri Belanda. Politik dranaige itu mencapai puncaknya pada masa tanam paksa (cultuur stelsel) dan kemudian dilanjutkan pada masa sistem ekonomi
liberal.
Sistem ekonomi liberal pun tidak meningkatkan taraf kehidupan
rakyat. pada masa itu berkembang kapitalisme modern yang berlomba-lomba
menanamkan modalnya di Indonesia, antara lain perkebunan raksasa. Pemerintah
mengizinkan para pemilik modal menyewa tanah, termasuk tanah rakyat. Akibatnya,
lahan untuk pertanian rakyat berkurang. Sebagian besar petani terpaksa menjadi
buruh di pabrik atau perkebunan dengan upah yang rendah.
Pada sisi lain, perusahaan-perusahan pribumi
mengalami kemunduran atau sama sekali gulung tikar sebab tidak mampu bersaing
dengan modal raksasa. Pengusaha tekstil tradisional pun terpukul akibat
membanjirnya tekstil yang diimpor dari Belanda. Para pengusaha pribumi juga
dirugikan sebab pemerintah Belanda lebih banyak memberikan kemudahan kepada
pedagang Cina.
3. Dalam bidang Iptek dan Budaya
Revolusi Industri lahir dengan latar belakang ilmu
pengetahuan yang pekat. Ketika Indonesia dijajah oleh Inggris, maka hal itu pun
sangat berpengaruh. Raffless yang dalam kesempatan tersebut menjadi gubernur
jendral yang sangat perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan alam, maka salah
satu bunga bangkai yang ditemukan di Bengkulu dinamai dengan bunga Raflesia Arnoldi. Bahkan, Kebun Raya Bogor juga merupakan itikad
dari istri Raffles. Dalam hal ilmu perbintangan, di Bandung didirikan pula tempat
obsevasi yang didirikan Van den Bosch.
Seiring dengan munculnya hubungan Hindia Belanda dengan
Inggris, maka sedikit demi sedikit masyarakat Indonesia dikenalkan juga dengan
kemajuan teknologi tersebut. Penjajahan Indonesia yang sempat kembali ke tangan
Belanda menghentikan kemajuan tersebut, namun dalam perkembangan kontemporer, pengaruh
Revolusi Industri sangat terlihat dan terasa.
4. Dalam Bidang Sosial
Industrialisasi sejak semula sangat berkaitan dengan
masalahmasalah sosial-kemasyarakatan. Adanya perbedaan pendapatan ekonomi
cenderung membuat manusia mengukur segala sesuatu dengan mahal-murahnya harga
sesuatu. Dengan perbedaan tersebut, muncullah diskriminasi sosial yang tidak
manusiawi. Selain itu, ada pula dampak positif dari Revolusi Industri ini,
yaitu dibukanya jalur transportasi darat yang baru rel kereta api guna mempercepat
proses mobilisasi dan penyampaian informasikomunikasi.
a. Diskriminasi
Sosial
Dalam bidang sosial terjadi perbedaan yang mencolok antara
golongan Barat atau Belanda dengan golongan pribumi. Dalam bidang pemerintahan
juga terjadi diskriminasi, pembagian kerja dan pembagian kekuasaan didasarkan
pada warna kulit. Orang pribumi yang mendapatkan jabatan pastilah jabatan
rendah dan dibatasi kekuasaannya. Diskriminasi juga terjadi di kalangan militer.
Untuk pangkat yang sama, gaji orang Indonesia yang berdinas
dalam militer Belanda lebih rendah daripada gaji anggota militer Belanda.
Bahkan diadakan pula perbedaan gaji antara serdadu Ambon dan serdadu Jawa.
Diskriminasi berlaku juga di tempat hiburan. Ada tempat-tempat yang tidak boleh
dimasuki oleh orang Indonesia, seperti tempat pemandian, restoran bahkan pada
angkutan umum, seperti kereta api lintas-kota atau trem (kereta api dalam
kota).
Rupanya para penggagas Politik Etis hendak
menciptakan hubungan yang harmonis antara Belanda dan golongan pribumi, namun
kesamaan pandangan yang diharapkan ternyata tak berbuah seperti yang
diharapkan. Orang-orang Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan dari
Belanda, semakin menyadari tentang arti penting kemerdekaan yang pada akhirnya
mereka menjadi pemuda-pemuda pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini
membuktikan bahwa diskriminasi berdasarkan ras menjadi salah satu faktor
lahirnya pergerakan nasional.
b. Dibangunnya
Jalur Transportasi Darat
Revolusi Industri secara tidak langsung berdampak
pula dalam hal transportasi di Indonesia, terutama darat. Untuk mempermudah
mobilitas penduduk dan perdagangan, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur
kereta api di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan guna mempercepat hubungan
komunikasi dan dagang. Untuk daerah pegunungan yang banyak terdapat perkebunan
(misalnya di Jawa Barat), dibangun khusus jalur kereta api untuk mengangkut
hasil bumi ke kawasan pabrik guna diolah menjadi bahan setengah jadi atau jadi.
Sesungguhnya jalur darat telah dibuka sejak masa
Daendels memerintah Jawa, yaitu dengan dibukanya rute baru: Anyer- Panarukan
yang membelah Pulau Jawa pada awal abad ke-19. Dengan tujuan semula untuk
mempercepat proses informasikomunikasi antarkantor pos, maka Jalan Raya Pos (The Grote Postweg) ini pada masa selanjutnya berguna pula untuk jalur
mobilitas penduduk yang ingin ke luar kota atau pulau.
c. Mobilitas
Penduduk dan Masalah Demografi
Industrialisasi mengakibatkan perpindahan penduduk
dari desa ke kota-kota besar. Berdirinya pabrik-pabrik telah mendorong kehidupan
baru dalam masyarakat Indonesai yang sebelumnya masyarakat agraris dan maritim.
Terbentuklah komunitas pekerja kasar dan buruh yang bekerja di pabrik-pabrik
partikelir (swasta). Kota-kota besar, terutama Jakarta dan Surabaya, merupakan tempat
tujuan orang-orang untuk mengadu nasib.
Untuk mendapatkan pegawai-pegawai semacam juru ketik
atau tulis yang murah maka pemerintah kolonial membangun sekolah-sekolah
kejuruan guna menghasilkan tenaga-tenaga ahli dari pribumi yang tentunya jauh
lebih murah honornya bila dibandingkan tenaga ahli dari Eropa. Tenaga
tulis/ketik tersebut selain dipekerjakan di instansi pemerintahan, juga
dipekerjakan pegawai rendah di perkebunan pemerintah.
Pada masa pelaksanaan ekonomi liberal sekolah
didirikan untuk tujuan yang sama. Pada 1851, didirikan sekolah dokter pertama
di Jawa yang sebenarnya merupakan sekolah untuk mendidik mantri cacar atau kolera.
Maklum kala itu kedua penyakit tersebut sering menjadi wabah di beberapa
daerah. Sekolah “mantri” tersebut kemudian berkembang menjadi STOVIA (School Tot Opleiding
Voor Inlandse Artsen) atau
sekolah dokter pribumi.
Rabu, 10 Oktober 2012
Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara RI
Pada akhir Perang Dunia II, Jepang mulai banyak mengalami kekalahan di
mana-mana dari Sekutu. Banyak wilayah yang telah diduduki Jepang kini
jatuh ke tangan Sekutu. Jepang merasa pasukannya sudah tidak dapat
mengimbangi serangan Sekutu. Untuk itu, Jepang menjanjikan kemerdekaan
kepada bangsa Indonesia agar tidak melawan dan bersedia membantunya
melawan Sekutu.
Selasa, 09 Oktober 2012
Naskah Asli UUD 1945 Dan Amandemen I Sampai IV
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar Negara. Dalam perjalanannya tejadi Amandemen terhadap UUD 1945 tersebut. Amandemen merupakan penambahan atau perubahan pada sebuah konstitusi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari naskah aslinya, dan diletakkan pada dokumen yang bersangkutan. Amandemen UUD 1945 tidak dimaksudkan untuk melakukan perubahan mendasar atas Preambul/Pembukaan UUD 1945 dan dasar negara Pancasila, bentuk negara Kesatuan, maupun bentuk pemerintahan presidensiil.
Sabtu, 08 September 2012
Manusia Purba
Manusia purba adalah manusia penghuni bumi yang hidup pada zaman
prasejarah (zaman ketika manusia belum mengenal tulisan). Kita
mengetahui adanya manusia purba, yaitu dengan ditemukannya fosil dan
artefak. Fosil adalah sisa-sisa organisme (manusia, hewan, dan tumbuhan)
yang telah membatu yang tertimbun di dalam tanah dalam waktu yang
sangat lama. Sedangkan artefak adalah perkakas atau alat-alat yang
dipergunakan manusia purba ketika masih hidupnya. Fosil dan artefak itu
ditemukan oleh para arkeolog (ahli purbakala) melalui kegiatan
penggalian tanah. Hasil penggalian yang berupa fosil dan artefak ini
kemudian diteliti. Tujuannya untuk mengetahui kehidupan manusia yang
hidup pada masa lampau. Sebab manusia purba tidak meninggalkan
sumber-sumber sejarah yang berupa tulisan.
Kamis, 29 Maret 2012
Sejarah NTT (Nusa Tenggara Timur)
Sejarah Tentang Keberadaan Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur)
Sudah Tentu Banyak Yang Ingin Mengetahuinya, Meski Hal Itu Sekedar
Hanya Untuk Menambah Wawasan Kita Semata. Berdirinya Timor Diyakini Oleh
Sebagian Kalangan Telah Ada Sebelum Masa Kedatangan Portugis. Ada
Beberap Versi Penceritaan Yang Mengungkapkan Tentang Beberapa
Kemungkinan Berdirinya Timor. Berdasarkan Penelitian Bahasa, Ternyata
Kata Cupa Berasal Dari Bahasa Spanyol Atau Dapat Juga Merupakan Bahasa
Inggris Kuno, Cupa Atau Cuppe, Yang Artinya Kendi Berukir Indah Yang
Biasanya Memang Dijadikan Sebagai Cindera Mata. Sehingga Kemungkinan
Besar Versi Cerita Tentang Nahkoda Dan Rombongan Asing Pertama Yang
Berasal Dari Spanyol. Namun Perlu Menjadi Catatan Bahwa Pada Masa
Penguasaan Portugis Maupun Belanda, Kupan Ditulis Dan Diucapkan Dalam
Lima Versi Yaitu Cupao, Coupan, Cupam, Kopan, Dan Koepang.
Pengertian Sejarah Lisan dan Fungsi Sejarah Lisan dalam Metodologi Sejarah
Pengertian Sejarah Lisan.
Sejarah Lisan merupakan usaha untuk
merekam seluruh kenangan dari si pelaku sejarah, agar semua aktifitas
yang dilakukannya, yang dilihatnya dan dirasakannya dapat terungkap
melalui proses wawancara dengan segala nuansa yang muncul dari aspek
peristiwa sejarah. Wawancara sejarah lisan agak berbeda dengan wawancara
jurnalistik, sebab ada persiapan metodologis yang secara kritis
dilakukan, pemilihan topik-topik tertentu, kajian pustaka dan
dokumen-dokumen yang terkait serta pedoman wawancara.
Model-model Kajian Sejarah Sosial Ekonomi
Sejarah ekonomi secara garis besar
mempunyai pengertian sebagai kegiatan dan keadaan perekonomian suatu
masyarakat pada masa lampau. Sdangkan secara spesifik dapat dikatakan,
sejarah ekonomi adalah study tentang bagaimana perekonomian berevolusi
dari sebuah sudut pandang sejarah. Masalah besar dalam sejarah ekonomi
menitik beratkan dalam dua kategori, yaitu keseluruhan pertumbuhan
ekonomi sepanjang waktu dan faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan
itu (kemandekan atau kemerosotan), dan distribusi pendapatan dalam
ekonomi tersebut (bagi arah pertumbuhan atau kemunduran).
ekolah Jaman Kolonial Belanda
Pada zaman kolonial pemerintah belanda
menyediakan sekolah yang beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk
memnuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri yang khas dari
sekolah-sekolah ini ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah
itu. Namun lambat laun, dalam berbagai macam sekolah yang terpisah-pisah
itu terbentuklah hubungan-hubungan sehingga terdapat suatu sistem yang
menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak-anak Indonesia semula
terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi terus berkembang secara
vertikal sehingga anak-anak Indonesia, melalui pendidikan menengah dapat
mencapai pendidikan yang tinggi, sekalipun melalui jalan yang sempit.
Perkembangan Pendidikan Guru Pada Masa Orde Lama Dan Orde Baru
Selama kurun waktu ini sistem pendidikan
guru di Indonesia mengalami berbagai perubahan, termasuk perubahan dalam
cara bagaimana para siswa dipersiapkan menjadi guru-guru yang kompeten.
Apalagi selama masa orde lama dan orde baru terjadi periode yang
mencakup zaman Demokrasi Liberal (1950-1959) dan zaman Demokrasi
Terpimpin (1959-1965) yang merupakan periode yang ditandai dengan
kekacauan politik dan kemerosotan ekonomi. Tentu ini mempengaruhi
perkembangan pendidikan guru di Indonesia. Selama masa orde lama terjadi
ekspansi sistem pendidikan guru SD, pembangunan dibidang pendidikan,
ekspansi sistem pendidikan guru Sekolah Menengah. Selama orde baru
terjadi pembanguna dibidang pendidikan, peningkatan mutu pendidikan
kejuruan, peningkatan mutu pendidikan umum, masalah pembaharuan
kurikulum, dan pembangunan dibidang pendidikan guru. Jadi dalam makalah
ini dibahas perkembangan pendidikan guru pada masa orde lama dan orde
baru.
Sejarah VOC di Indonesia
Akhir abad ke-16 bangsa Belanda berhadil
memperoleh peta-peta informasi ke Timur dari bangsa Italia (Venesia)
yang banyak berjasa membuat peta ke Timur yang kemudian digunakan oleh
bangsa Portugis. Semenjak itu bangsa Belanda mulai melakukan perjalanan
laut ke arah Timur (Asia). Tahun 1595 kapal-kapal niaga Belanda mulai
berdagang di daerah Banten dan Sunda Kelapa di bawah pimpinan
Makna dan Kegunaan Sejarah
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu Syajaratun yang artinya pohon. Menurut bahasa Arab, sejarah
sama artinya dengan sebuah pohon yang terus berkembang dari tingkat
yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks atau ke tingkat yang lebih
maju dan maka dari itu sejarah di umpamakan menyerupai perkembangan
sebuah pohon yang terus berkembang dari akar sampai ranting yang paling
kecil yang kemudian bisa di artikan silsilah. Syajarah dalam arti
silsilah berkaitan dengan babad, tarikh, mitos dan legenda. Dalam bahasa
Inggris kata sejarah (history) berarti masa lampau umat manusia, dalam bahasa jerman kata sejarah (geschichte) berarti sesuatu yang telah terjadi, sedangkan dalam bahasa latin dan yunani kata sejarah
(histor atau istor) berarti orang pandai. Sejalan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan, pengertian sejarah pun mengalami perkembangan.
Dasar-Dasar Ilmu Sejarah
Sejarah secara sempit adalah sebuah peristiwa manusia yang bersumber
dari realisasi diri, kebebasan dan keputusan daya rohani. Sedangkan
secara luas, sejarah adalah setiap peristiwa (kejadian). Sejarah adalah
catatan peristiwa masa lampau, studi tentang sebab dan akibat. Sejarah
kita adalah cerita hidup kita.
Pengertian sejarah dan sejarah sebagai ilmu, peristiwa, kisah, seni
1. Pengertian Sejarah
a. Pengertian secara etimologis (berdasar asal usul katanya)
i) Sejarah dari bahasa arab ‘syajaratun’ artinya pohon, karena sejarah merupakan suatu silsilah seperti ranting pohon. Sedangkan di Arab, sejarah = ‘tarikh’.
Definisi Sejarah Dan Keterangannya
Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat
berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau
riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah).
Umumnya
sejarah atau ilmu sejarah diartikan sebagai informasi mengenai kejadian
yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah
berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan
yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan
akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah
lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.


