Selasa, 30 Oktober 2012
Manusia dan Moral
A.
Persoalan Dasar Manusia
Moral erat
kaitannya dengan aktivitas manusia secara individual atau kolektif. Kedua hal
tersebut saling terkait, memenuhi kebutuhan hidup manusia sekaligus keselamatan
hidupnya lahir dan batin. Dalam bab ini akan mencoba memahami apa yang dimaksud
dengan persoalan dasar manusia dan bagaimana cara pemecahan persoalan tersebut
melalui iman katolik.
Pokok
masalah perkembangan dan kemajuan jaman menjadi buah bibir setiap orang dan
muncul didalam kolom-kolom surat kabar dan terbitan-terbitan lainnya. Pokok
masalah ini tidak hanya mengandung penegasan atau klarifikasi masalah, akan
tetapi juga pertanyaan serta butir kegelisahan manusia yang sangat mencemaskan.
Mengatasi persoalan dasar tersebut, berarti mengamankan secara mendasar nasib
manusia bahkan menyiapkan kondisi yang dapat menunjang tumbuh kembangnya
manusia bermartabat. Tetapi sebaliknya apabila gagal mengatasinya akan
menghancurkan martabat manusia beserta peradaban luhurnya. Menghadapi persoalan
dasar manusia yang demikian, maka penting mengetahui bagaimana memecahkannya.
Kita
bersama dengan gereja menemukan prinsip perhatian dalam Yesus Kristus sendiri,
sebagaimana diberikan kesaksian oleh Injil Kristus. Inilah sebabnya, kita
bersama gereja ingin membuat perhatian ini bertumbuh dan berkembang terus
menerus melalui hubungannya dengan Kristus. Dengan cara membangun sistem
jejaring yang handal dalam rangka memanfaatkan hubungan kerja sama sesama
manusia untuk memecahkan persoalan dasar.
Solidaritas
sejati melampaui segala sekat-sekat batas suku atau etnis, bangsa, ras, sosial
ekonomi dll. Solidaritas ini diperlukan oleh masyarakat. Solidaritas ini ada
dalam hidup secular, karena orang mempraktekkan persaudaraan umat manusia atas
dasar kesamaan martabat sebagai manusia yang saling membutuhkan (Humanisme
Sekular).
Suatu
masyarakat dimana kehidupan ipoleksosbud-hankam diwujudkan sebaik-baiknya demi
kehidupan manusia terarah pada tujuan trasendetalnya, maka martabat manusia
dapat ditumbuhkembangkan menuju kesempurnaan hidup sejatinya. Dan ini terjadi,
jika dengan perantaraan Yesus Kristus dan oleh karya penyelamatan-Nya kita
dikuatkan oleh Bapa dalam persekutuanNya dengan Roh Kudus.
Dengan
demikian, Gereja atau umat Allah dapat menampakkan diri sebagai sakramen
keselamatan umat manusia karena persatuannya dangan Allah Bapa, Putera dan Roh
Kudus berperan sebagai tanda dan sarana mewujudkan keselamatan di dunia bagi
semua orang. Hanya dengan demikian, akan berhasil memecahkan persoalan dasar
yang dihadapi bersama didunia ini.
B. Martabat Manusia
Martabat
manusia setingkat dengan nilai absolut. Martabat ini, bukan akibat pengakuan
atau consensus orang atau masyarakat. Melainkan sudah ada pada manusia secara
intrinsik. Martabat manusia sebagai mahluk berakal budi dan berkehendak merdeka
berkaitan dengan tanggung jawab atas tindakannya sebagei subyek etis. Manusia
adalah mahluk yang dapat bertindak secara moril atau etis dan karenanya
berkewajiban mengembangkan diri dengan sadar.
Martabat
manusia adalah perwujudan kerohaniannya (akal budi dan kehendak mereka).
Tetapi, manusia adalah mahluk rohani-jasmani yang tidak terpisahkan (tetapi
bisa dibedakan). Badan manusia mengambil bagian dalam kerohaniannya dan
sebaliknya. Kedua segi itu saling melengkapi atau saling mempengaruhi atau
saling meresapi.
Tubuh
manusia ikut mengambil bagian dalam martabat manusia. Hal ini, harus diakui dan
dihormati oleh semua orang dan lembaga yang ada di dunia ini, termasuk oleh
negara dan umat beragama serta pemuka-pemukanya. Sebab martabat manusia adalah
anugerah dari sang Pencipta, maka tidak masuk akal menuntut sesuatu yang
berlawanan dengan martabat manusia atas dasar hukum/kepentingan negara, apalagi
atas hukum Ilahi.
Persekutuan
kristiani mengakui dan menghormati martabat manusia sepenuhnya. Inilah
kewajiban keagamaan, (yang sayangnya) tidak selamanya diamalkan dengan baik
juga oleh oranng yang menyebut dirinya orang kristiani (Katolik KTP). Dalam
ajaran sosial gereka katolik martabat manusia diterangkan dan diuraikan
berdasar sumber-sumber yang ada dalam Kitab Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru serta Ajaran Gereja yaitu martabat manusia sebagai ciptaan Allah, martabat
manusia bermartabat Anak Allah, dan manusia sebagai pribadi sosial dalam
ziarahnya di dunia.
C. Hakekat Dan Tanggung Jawab Manusia
Hidup manusia disamping
merupakan anugerah Tuhan sekaligus mengemban tugas panggilan (gabe und
aufgabe). Dasar biblis tugas panggilan tersebut merupakan tolak ukur tindakan
manusia bertanggung jawab:
1. Kejadian 1 : 28 :
”Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan
taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung di udara
dan atas segala binatang yang merayap dibumi” (tugas mengelola dunia ciptaan).
2. Matius 5 : 48 :
”Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di
surga adalah sempurna” (tugas mengerjakan keselamatan, istilah Paulus)
Di dalam
Perjanjian Baru manusia mendapat tugas panggilan melaksanakan kehendak Allah
yang sekaligus menjadi arah tujuan hidupnya. Menjalani tugas panggilan berarti
maengembangkan martabatnya atau keluhurannya sebagai manusia atau anak Allah.
Untuk mengembangkan martabatnya, manusia harus menjatuhkan pilihan dengan
merdeka dan bertanggung jawab atas perbuatannya pada hari kematiannya.
Dalam
perkembangannya, ternyata menusia memiliki 2 unsur dalam dirinya yaitu:
1. Mengacu pada Kejadian 1 : 28 bahwa manusia
memiliki kodrat sebagai mahluk ciptaan yang menjadikannya bermartabat duniawi.
2. mengacu pada Matius 5 : 48 bahwa manusia
mempunyai kodrat menjadi anak Allah yang menjadikannya bermartabat surgawi.
Kedua unsur
ini, yang ada pada manusia harus diwujudkan menjadi kesatuan, merupakan satu
martabat manusia yang menampakkan diri dalam banyak segi. Unsur-unsur duniawi
bersifat sekunder dan bernilai relatif, artinya adanya terarah sebagai bantuan
untuk mencapai perkembangan kearah kesempurnaan martabat Allah.
Unsur-unsur
yang mengacaukan perkembangan manusia sudah ada dalam diri manusia, yaitu
warisan dosa asal alias situasi berdosa dimana mau tidak mau manusia lahir
didunia mengalami situasi berdosa tersebut secara langsung. Manusia terinfeksi
adanay dosa warisan tersebut, manusia secara kodratnya cenderung berbuat jahat
yang merupakan tanah subur untuk melakukan kesalahan dan perjuangan pribadi
maupun bersama-sama dalam menegakkan kerajaan Allah.
Dalam
Sollicitudo Rei Socialis Paus Yohanes Paulus II, menandaskan bahwa kekeliruan
dan keterbatasan tehnis dalam pengetahuan dan pengalaman manusia mencapai
perkembangan martabatnya membutuhkan pertobatan, yang mampu membasmi pengaruh
dosa. Tanpa pertobatan yang dimulai dari diri sendiri, mustahil tindakan
manusia menghasilkan tindakan yang bertanggung jawab dan yang mampu
menumbuh-kembangkan perkembangan terarah pada tujuan hakiki hidup manusia
sejati.
Tuhan Yang Maha Esa dan KeTuhanan
Konkritnya, orang akan beriman setelah
mendapatkan pewartaan iman oleh orang lain atau gereja.
Orang yang beriman wajib menata tingkah
laku sesuai dengan kebenaran yang diimani dan yang dianggap baik atau sesuai
hati nurani diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan yang demikian inilah,
merupakan tindakan yang arif bijaksana seorang beriman yang juga merupakan
tanda kedewasaan iman. Mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya baik kepada
Tuhan, sesama, dunia, lingkungan hidup dan masyarakatnya. Dengan cara
demikian, manusia membangun diri.
A. Ketakwaan
Kepada Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan Iman Katolik
Keimanan
kepada Tuhan YME timbul pada seseorang, apabila orang tersebut pernah
mendengarkannya. Selanjutnya sebagai konsekuensi dari keimanannya, maka orang
menjatuhkan pilihan untuk menerima atau menolaknya.
Semangat
anak Allah berarti bersikap atau berperilaku yang cenderung maksimalis; sedang
semangat budak adalah bersikap atau berperilaku cenderung minimalis, penuh
perhitunagan dan bermentalitas “do ut des”, yang berarti “saya memberi
agar engkau juga memberi”. Anak Allah selalu melaksanakan kehendak Bapa-Nya
yang tersirat sejak dini, tidak pernah terlambat membalas kasih-Nya. Inilah
wujud semangat kemerdekaan anak-anak Allah yang sejati.
B. Filsafat
Ketuhanan (Teologi Natularis)
Dalam kenyataannya,
manusia mempunyai kemampuan dasar berfikir dan berkehendak serta bertindak
secara manusiawi, yang merupakan bukti keluhuran martabatnya sebagai manusia.
Dengan kata lain, menjadi mahluk yang melebihi makluk ciptaan lainnya karena
pemilikannya berupa akal budi, untuk berfikir dan berkehendak menjatuhkan
pilihan dalam tindakan merdeka atau bermartabat manusia.
Filsafat Ketuhanan
tidak hanya bersifat spekulatif, tetapi juga praktis khususnya berhubungan
dengan akhlak dan agama. Filsafat Ketuhanan ingin menjelaskan eksistensi
manusia sendiri, tetapi secara khusus dalam relasi dengan pusat transcendennya
( Allah). Metoda yang dipakai tidak ditentukan oleh iman atau agama. Melainkan,
oleh penalaran manusia sendiri dan refleksi filosofis dan metafisik.
Sejarah Perkembangan Komunitas Kristiani
A.
Gereja Rasuli
Komunitas
Kristiani yang dihasilkan dan digambarkan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru
disebut “Gereja Rasuli” atau Gereja Apostolik, yaitu Gereja para rasul dan
jemaat atau generasi pertama kristiani yang mencakup kurun waktu antara 30-100
tahun, antara peristiwa pentakosta dan penulisan terakhir dari Alkitab.
Dibawah
pimpinan Yakobus, saudara Yesus, komunitas Yahudi kristiani di Yerusalem dan
Palestina berkembang. Mereka membentuk suatu sekte Yahudi yang dibedakan dari
Yahudi lain berdasar iman mereka bahwa Al Masih Yahudi telah datang dalam
pribadi Yesus.
Paulus dan
Barnabas mulai mewartakan iman kepada bangsa bukan Yahudi. Pandangan Paulus
diterima oleh Petrus dan Yakobus, yaitu sewaktu Allah membangkitkan Yesus dari
antara orang mati, zaman baru dari keselamatan Allah telah dimulai, dan umat
kristiani tidak lagi terikat untuk mengikuti Hukum Agama Yahudi.
Dalam
perjalanan waktu setelah pewartaan para rasul, semakin banyak orang dari bangsa
bukan Yahudi dikerajaan Roma menjadi Kristiani, dan akhirnya Gereja lebih
terdiri dari orang bukan Yahudi. Tradisi Kristiani menerima Petrus sebagai
pimpinan, pertama saat di Yerusalem, kemudian Antiokhia dan akhirnya di Roma.
Di situlah ia dibunuh pada zaman pemerintahan Kaisar Nero.
B.
Zaman Pengejaran
Komunitas
Kristiani yang mula-mula percaya bahwa Yesus akan segera datang kembali dengan
mulia menyadari bahwa kedatangan-Nya itu masih perlu ditunggu sebelum Hari
Akhir. Kitab perjanjian baru yang muncul pertama kali adalah Surat-surat Paulus
kepada jemaat di Tesalonika penuh dengan harapan akan kedatangan Yesus dan
kitab-kitab yang muncul belakang lebih berisi masalah organisasi (tata-atur)
komunitas dan ajaran moral, yaitu cara orang menghayati hidup kristiani dalam
masyarakat.
Sedikit demi sedikit tata atur komunitas
berkembang dan terbentuk. Selain itu dalam komunitas ada beberapa orang yang
dianggap menerima karunia khusus yang perlu digunakan untuk pembangunan Gereja,
selain itu ada juga orang yang mendapat karunia untuk melakukan mukjizat,
penyembuhan dan berbahasa.
Para penguasa Romawi setempat umumnya
toleran, tetapi juga sering mengejar-ngejar jemaat kristiani, banyak anggota
jemaat termasuk Petrus dan Paulus, dihukum mati karena pernyataan iman mereka.
C.
Konsili-konsili Awal
1.
Konsili Nicea, tahun 325
Pada waktu
itu terjadi kontroversi antara Athanasius dan Arius, keduanya teolog dari Alexandria, yang menyebar ke seluruh komunitas kristiani
sehingga perlu diadakan Konsili Ekumenis (seluruh dunia) di kota Nicea. Mereka sama-sama setuju bahwa
Sabda Allah itu menjadi manusia dan tinggal dalam diri Yesus. Tetapi keduanya
berbeda dalam hal menangkap kodrat Sabda itu.
Karena
kontroversi itu menyebabkan perpecahan dalam Gereja, maka Kaisar Konstantinus
mengadakan Konsili Nicea yang hasilnya konsili itu menegaskan bahwa formulasi
Athanasiuslah yang benar dan menolak pandangan Arius. Konsili menghasilkan
Credo (Syahadat Pendek) yang merumuskan Sabda Allah berasal dari kodrat Ilahi
dan bukan dari ciptaan.
2.
Konsili Ephesus, tahun 431
Nestorius adalah seorang uskup dan teolog
dari Siria. Oleh para musuhnya ia dipandang mengajarkan bahwa Yesus memiliki
dua pribadi yaitu manusia dan ilahi. Nestorius berpandangan bahwa ajarannya
sama dengan apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja di Ephesus, dan
perbedaannya hanya dalam istilah saja.
Tetapi pada
saat itu secara umum dirasakan bahwa teologi Nestorius ditolak oleh konsili Ephesus. Maka mereka yang
mengikuti cara piker Nestorius lalu disebut “Nestorian” dan mereka ini terdapat
di kerajaan Romawi sebelah Timur yaitu Iraq
dan Iran.
Merekalah yang membawa iman kristiani ke India dan Cina.
3.
Konsili Kalcedon, tahun 451
Konsili ini
menolak ajaran Eutikes yang berpandangan bahwa Kristus memiliki satu kodrat
ilahi dan tidak memiliki kodrat manusiawi. Konsili Kalcedon sangat hati-hati
dengan membatasi diri untuk tidak membuat formulasi paten tentang hubungan
Yesus dengan Allah. Ini dibiarkan
terbuka bagi perkembangan pemahaman teologi di kemudian hari.
Gereja-gereja di Roma dan Konstantinopel
menerima ajaran Konsili Kalcedon, sedang Gereja di Mesir (Gereja Kopt) dan
Syria (Gereja Yakobit) menolaknya. Sejak itu Gereja Orthodox dan Syria tidak
bersatu lagi dengan Vatikan, Gereja Katolik dan Konstantinopel.
D.
Kontroversi Ikonoklast
Perdebatan
terjadi dalam kerajaan Byzantium
antara tahun 725-842, yaitu masalah penggunaan gambar-gambar dalam gereja.
Gereja Byzantium mempunyai tradisi menghiasi gedung gerejanya dengan mozaik
dari Yesus, Maria, dan para kudus, dan umat Kristiani menaruh hormat kepada
ganbar-gambar itu. Pada pemerintahan Kaisar Leo III (741), beberapa umat
kristiani merasa tidak senang atas penghormatan icon-icon itu.
Kontroversi
di kerajaan Byzantium
terjadi selam 150 tahun dan selama itu banyak icon dihancurkan dan banyak rahib
pendukung kuat penghormatan icon dibunuh. Akibatnya diadakan konsili Nicea II
(787), dan diputuskan bahwa penghormatan wajar kepada gambar diijinkan sejauh
orang beriman yang menggunakannya sadar bahwa bukan gambarnya tetapi orangnya
yang dilukiskan yang dihormati dan penghormatan yang sejati hanya pada Allah
saja. Kontroversi itu berakhir tahun 842 waktu Ratu Theodora menyatakan bahwa
gambar-gambar suci di tempat wajar untuk dihormati di seluruh Keraaan
Byzantium.
E.
Skisma Timur – Barat
Istilah
skisma berarti perpisahan/pecah antara dua lembaga kristiani, yang dasarnya
bukanlah ajaran. Skisma paling besar terjadi dalam sejarah Gereja Kristiani
ialah antara Gereja Konstantinopel dan Roma yang sering disebut “skisma
Timur-Barat”.
Meskipun ada
perbedaan pandangan tentang kuasa dalam gereja, umat kristiani Timur dan Barat
tetap bersatu sampai abad IX kemudian terjadi skisma lagi. Perpisahan antara
Konstantinipel dan Roma yang bersejarah ini terjadi tahun 1045.
Dalam
puluhan tahun akhir ini, gerakan persatuan gereja konstantinopel dan Roma mulai
menguat kembali. Paus Yohanes XXIII, Paulus VI dan Yohanes Paulus II telah
berkunjung ke Patriark Ekumenis di Istanbul dan sebaliknya. Kedua Gereja telah
membentuk suatu komisi bersama yang bertugas mempelajari guna terbentuknya
kesatuan Gereja yang penuh.
F.
Gereja Abad Pertengahan
Dengan
bertobatnya Kaisar Konstantinus (337) mengakui iman Kristiani, maka komunitas
kristiani yang dulunya sebagai sekte yang dikejar-kejar dalam Kerajaan Romawi,
menjadi Gereja yang diakui resmioleh negara. Ini membuat perubahan
besar-besaran dalam Gereja.
Penyalahgunaan
terjadi dalam hidup Gereja di abad pertengahan. Salah satu yang paling jelek
ialah ‘simonia’, yaitu penjualan jabatan dan hak-hak khusus agama. Paus, uskup dan para pastor berperan sangat
ekstrem dalam hidup Gereja.
Sebenarnya
terjadi juga beberapa gerakan pembaharuan dalam gereja abad tengah itu.
Beberapa menerima wewenang Paus dan berusaha menghilangkan penyalahgunaan yang
ada dalam gereja. Lainnya menolak Gereja Katolik sekaligus dan mencari bentuk
penghayatan hidup kristiani yang lebih murni.
G.
Reformasi
1.
Reformasi Protestan
Meskipun
banyak umat kristiani mengumandangkan pentingnya pembaharuan dalam gereja,
namun “peristiwa indulgensi”-lah yang meledakkan perpecahan dalam gereja
katolik di Barat. Tahun 1517, Martin Luther seorang rahib ordo St. Agustinus,
dari Jerman menempelkan daftar 95 thesis yang tidak setuju dengan unsur dogma
dan praktek agama yang tradisional.
Gagasan yang
dilontarkan Luther mencakup topik yang cukup luas, dan beberapa yang penting
adalah:
a. Keselamatan
hanya karena iman saja
b. Alkitab
adalah satu-satunya yang berwenang dalam hal iman kristiani
c. Menolak
sifat korban dari Ekaristi
d.
Memperluas
peran awam dalam liturgy dan kepemimpinan gereja
e. Independensi
gereja local dari Roma
f. Menolak
praktek-praktek keagamaan Katolik, seperti ziarah, puasa, pengakuan dosa
g.
Keberatan
akan adanya penyalahgunaan, sepaerti
penjualan indulgensi, simonia, dsb.
Gerakan Reformasi tercabik-cabik sewaktu
para pengikut Luther tidak setuju dengan macam-macam unsur dari teologi Luther
dan mereka memulai Gereja mereka sendiri. Contohnya: Zwingli memimpi
pembaharuan gereja di Swiss, melepaskan diri dari Luther karena berbeda
pendapat tentang kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Yohanes Calvin menolak
pengertian imamat, pengaruh ini sangat kuat, khususnya di Swiss, Belanda, dan
Perancis dan Scotlandia.
Kelompok Anabaptis, bukanlah salah satu
gerakan, tetapi terdiri dari kelompok Protestan yang menolak baptis bayi dan
sangat menekankan penerimaan pribadi Yesus sebagai penebus. Di Inggris,
pembaharuan mulai dengan skisma yang dimulai oleh Henry VIII, yang menolak
huasa wewenang Roma tetapi tetap menerima aharan Katolik. Dibawah
Elisabeth, anak Henry VIII, unsure ajaran Protestan dimasukkan ke dalam gereja
Anglikan
2.
Kontra-Reformasi Katolik
Gereja
Katolik dipaksa mengakui kebenaran dakwaan dari kaum reformator. Banyak yang
setuju, tetapi dilain pihak umat Katolik percaya bahwa kaum reformator dalam
proses selanjutnya telah membuang beberapa unsure pokok iman kristiani dan
praktek hidup yang berharga.
Maka muncullah gerakan reformasi di dalam
Gereja Katolik yang disebut Kontra-Reformasi. Pada tahun 1545-1564, Paus
mengadakan Konsili Trente. Konsili ini mengakhiri banyak penyalahgunaan yang
dilontarkan oleh reformator dan menegaskan ajaran katolik tradisional dan
menetang ajaran baru kaum Protestan.
3.
Gereja Orthodox dan Reformasi
Tahun 1643
dan 1672, Gereja Orthodox menerima dua ‘Confessio’ dari iman kepercayaan
orthodox yang menentang pandangan Luther dan Calvin, dalam hubungan tradisi dan
gambar-gambar, jumlah dan makna sakramen dan keselamatan lewat iman dan
perbuatan.
Dalam dua
hal Gereja Orthodox sebagian setuju dengan pandangan Reformator tentang masalah
Canon Alkitab, dimana Orthodox menerima empat buku Apokripa (Tobit, Yudit,
Sirakh dan Kebijaksanaan). Sejalan
dengan reformator, mereka menolak pandangan Gereja Katolik tentang wewenang
Paus.
H.
Konsili Vatikan II (1962 – 1965)
Konsili
Ekumenis terakhir dalam Gereja Katolik
diadakan oleh Paus Yohanes XXIII guna memperbaharui Gereja Katolik selaras
dengan kebutuhan zaman modern. Konsili
itu mnghasilkan 16 dokumen. Beberapa hal yang penting dalam ajaran Konsili
ialah:
1.
keunggulan
Alkitab dalam iman Gereja;
2.
imamat semua kaum beriman;
3.
komitmen untuk menggalang kesatuan umat kristiani
(ekumenisme);
4.
keterlibatan aktif dalam perjuangan keadilan, damai dan
hak-hak azasi manusia;
5.
ibadah diadakan
dalam bahasa setempat kaum beriman;
6.
keselamatan Allah dalam kaum beriman agama lain.
I.
Gerakan Ekumenis
Tujuan
gerakan Ekumenis (kata Yunani “oikumene” berarti seluruh dunia yang dihuni)
dalam umat kristiani ialah untuk menemukan kembali kesatuan karena telah
terjadi perpecahan dalam komunitas kristiani sepanjang sejarah.
Gerakan
ekumenis dewasa ini dapat ditelusuri kembali ke Konferensi Edinburg. 1910 yang
memutuskan didirikannya Konferensi Kristiani Universal (1925), tentang Hidup
dan Sabda. Dua tahun kemudian, Konferensi Sedunia. 1927 tentang Iman dan
Tatanan, di Lausanne dan mempelajari dasar teologis untuk gereja dan kesatuan.
Pada pertemuan kedua, tahun 1937, dua lembaga itu bergabung menjadi satu
berwujud Dewan Gereja-gereja Sedunia. Lalu dibuatlah suatu konstitusi, 1938.
Akibat Perang Dunia II peresmian ditangguhkan dan baru dilaksanakan tahun 1948,
dan kota Geneva
dipilih sebagai pusat kantornya, sebab Swiss netral dalam masalah politik.
Pada Konsili Vatikan II, Gereja Katolik
memutuskan untuk ikut dalam gerakan ekumenis. Tahun 1964, Paus Paulus VI,
membuka suatu Sekretariat di Vatikan yang bertugas memajukan Kesatuan Umat
Kristiani. Saat ini, Gereja Katolik menjadi anggota penuh dari Dewan
Gereja-gereja setempat yang jumlahnya 58 negara.
Sejarah Perkembangan Komunitas Kristiani
A.
Gereja Rasuli
Komunitas
Kristiani yang dihasilkan dan digambarkan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru
disebut “Gereja Rasuli” atau Gereja Apostolik, yaitu Gereja para rasul dan
jemaat atau generasi pertama kristiani yang mencakup kurun waktu antara 30-100
tahun, antara peristiwa pentakosta dan penulisan terakhir dari Alkitab.
Dibawah
pimpinan Yakobus, saudara Yesus, komunitas Yahudi kristiani di Yerusalem dan
Palestina berkembang. Mereka membentuk suatu sekte Yahudi yang dibedakan dari
Yahudi lain berdasar iman mereka bahwa Al Masih Yahudi telah datang dalam
pribadi Yesus.
Paulus dan
Barnabas mulai mewartakan iman kepada bangsa bukan Yahudi. Pandangan Paulus
diterima oleh Petrus dan Yakobus, yaitu sewaktu Allah membangkitkan Yesus dari
antara orang mati, zaman baru dari keselamatan Allah telah dimulai, dan umat
kristiani tidak lagi terikat untuk mengikuti Hukum Agama Yahudi.
Dalam
perjalanan waktu setelah pewartaan para rasul, semakin banyak orang dari bangsa
bukan Yahudi dikerajaan Roma menjadi Kristiani, dan akhirnya Gereja lebih
terdiri dari orang bukan Yahudi. Tradisi Kristiani menerima Petrus sebagai
pimpinan, pertama saat di Yerusalem, kemudian Antiokhia dan akhirnya di Roma.
Di situlah ia dibunuh pada zaman pemerintahan Kaisar Nero.
B.
Zaman Pengejaran
Komunitas
Kristiani yang mula-mula percaya bahwa Yesus akan segera datang kembali dengan
mulia menyadari bahwa kedatangan-Nya itu masih perlu ditunggu sebelum Hari
Akhir. Kitab perjanjian baru yang muncul pertama kali adalah Surat-surat Paulus
kepada jemaat di Tesalonika penuh dengan harapan akan kedatangan Yesus dan
kitab-kitab yang muncul belakang lebih berisi masalah organisasi (tata-atur)
komunitas dan ajaran moral, yaitu cara orang menghayati hidup kristiani dalam
masyarakat.
Sedikit demi sedikit tata atur komunitas
berkembang dan terbentuk. Selain itu dalam komunitas ada beberapa orang yang
dianggap menerima karunia khusus yang perlu digunakan untuk pembangunan Gereja,
selain itu ada juga orang yang mendapat karunia untuk melakukan mukjizat,
penyembuhan dan berbahasa.
Para penguasa Romawi setempat umumnya
toleran, tetapi juga sering mengejar-ngejar jemaat kristiani, banyak anggota
jemaat termasuk Petrus dan Paulus, dihukum mati karena pernyataan iman mereka.
C.
Konsili-konsili Awal
1.
Konsili Nicea, tahun 325
Pada waktu
itu terjadi kontroversi antara Athanasius dan Arius, keduanya teolog dari Alexandria, yang menyebar ke seluruh komunitas kristiani
sehingga perlu diadakan Konsili Ekumenis (seluruh dunia) di kota Nicea. Mereka sama-sama setuju bahwa
Sabda Allah itu menjadi manusia dan tinggal dalam diri Yesus. Tetapi keduanya
berbeda dalam hal menangkap kodrat Sabda itu.
Karena
kontroversi itu menyebabkan perpecahan dalam Gereja, maka Kaisar Konstantinus
mengadakan Konsili Nicea yang hasilnya konsili itu menegaskan bahwa formulasi
Athanasiuslah yang benar dan menolak pandangan Arius. Konsili menghasilkan
Credo (Syahadat Pendek) yang merumuskan Sabda Allah berasal dari kodrat Ilahi
dan bukan dari ciptaan.
2.
Konsili Ephesus, tahun 431
Nestorius adalah seorang uskup dan teolog
dari Siria. Oleh para musuhnya ia dipandang mengajarkan bahwa Yesus memiliki
dua pribadi yaitu manusia dan ilahi. Nestorius berpandangan bahwa ajarannya
sama dengan apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja di Ephesus, dan
perbedaannya hanya dalam istilah saja.
Tetapi pada
saat itu secara umum dirasakan bahwa teologi Nestorius ditolak oleh konsili Ephesus. Maka mereka yang
mengikuti cara piker Nestorius lalu disebut “Nestorian” dan mereka ini terdapat
di kerajaan Romawi sebelah Timur yaitu Iraq
dan Iran.
Merekalah yang membawa iman kristiani ke India dan Cina.
3.
Konsili Kalcedon, tahun 451
Konsili ini
menolak ajaran Eutikes yang berpandangan bahwa Kristus memiliki satu kodrat
ilahi dan tidak memiliki kodrat manusiawi. Konsili Kalcedon sangat hati-hati
dengan membatasi diri untuk tidak membuat formulasi paten tentang hubungan
Yesus dengan Allah. Ini dibiarkan
terbuka bagi perkembangan pemahaman teologi di kemudian hari.
Gereja-gereja di Roma dan Konstantinopel
menerima ajaran Konsili Kalcedon, sedang Gereja di Mesir (Gereja Kopt) dan
Syria (Gereja Yakobit) menolaknya. Sejak itu Gereja Orthodox dan Syria tidak
bersatu lagi dengan Vatikan, Gereja Katolik dan Konstantinopel.
D.
Kontroversi Ikonoklast
Perdebatan
terjadi dalam kerajaan Byzantium
antara tahun 725-842, yaitu masalah penggunaan gambar-gambar dalam gereja.
Gereja Byzantium mempunyai tradisi menghiasi gedung gerejanya dengan mozaik
dari Yesus, Maria, dan para kudus, dan umat Kristiani menaruh hormat kepada
ganbar-gambar itu. Pada pemerintahan Kaisar Leo III (741), beberapa umat
kristiani merasa tidak senang atas penghormatan icon-icon itu.
Kontroversi
di kerajaan Byzantium
terjadi selam 150 tahun dan selama itu banyak icon dihancurkan dan banyak rahib
pendukung kuat penghormatan icon dibunuh. Akibatnya diadakan konsili Nicea II
(787), dan diputuskan bahwa penghormatan wajar kepada gambar diijinkan sejauh
orang beriman yang menggunakannya sadar bahwa bukan gambarnya tetapi orangnya
yang dilukiskan yang dihormati dan penghormatan yang sejati hanya pada Allah
saja. Kontroversi itu berakhir tahun 842 waktu Ratu Theodora menyatakan bahwa
gambar-gambar suci di tempat wajar untuk dihormati di seluruh Keraaan
Byzantium.
E.
Skisma Timur – Barat
Istilah
skisma berarti perpisahan/pecah antara dua lembaga kristiani, yang dasarnya
bukanlah ajaran. Skisma paling besar terjadi dalam sejarah Gereja Kristiani
ialah antara Gereja Konstantinopel dan Roma yang sering disebut “skisma
Timur-Barat”.
Meskipun ada
perbedaan pandangan tentang kuasa dalam gereja, umat kristiani Timur dan Barat
tetap bersatu sampai abad IX kemudian terjadi skisma lagi. Perpisahan antara
Konstantinipel dan Roma yang bersejarah ini terjadi tahun 1045.
Dalam
puluhan tahun akhir ini, gerakan persatuan gereja konstantinopel dan Roma mulai
menguat kembali. Paus Yohanes XXIII, Paulus VI dan Yohanes Paulus II telah
berkunjung ke Patriark Ekumenis di Istanbul dan sebaliknya. Kedua Gereja telah
membentuk suatu komisi bersama yang bertugas mempelajari guna terbentuknya
kesatuan Gereja yang penuh.
F.
Gereja Abad Pertengahan
Dengan
bertobatnya Kaisar Konstantinus (337) mengakui iman Kristiani, maka komunitas
kristiani yang dulunya sebagai sekte yang dikejar-kejar dalam Kerajaan Romawi,
menjadi Gereja yang diakui resmioleh negara. Ini membuat perubahan
besar-besaran dalam Gereja.
Penyalahgunaan
terjadi dalam hidup Gereja di abad pertengahan. Salah satu yang paling jelek
ialah ‘simonia’, yaitu penjualan jabatan dan hak-hak khusus agama. Paus, uskup dan para pastor berperan sangat
ekstrem dalam hidup Gereja.
Sebenarnya
terjadi juga beberapa gerakan pembaharuan dalam gereja abad tengah itu.
Beberapa menerima wewenang Paus dan berusaha menghilangkan penyalahgunaan yang
ada dalam gereja. Lainnya menolak Gereja Katolik sekaligus dan mencari bentuk
penghayatan hidup kristiani yang lebih murni.
G.
Reformasi
1.
Reformasi Protestan
Meskipun
banyak umat kristiani mengumandangkan pentingnya pembaharuan dalam gereja,
namun “peristiwa indulgensi”-lah yang meledakkan perpecahan dalam gereja
katolik di Barat. Tahun 1517, Martin Luther seorang rahib ordo St. Agustinus,
dari Jerman menempelkan daftar 95 thesis yang tidak setuju dengan unsur dogma
dan praktek agama yang tradisional.
Gagasan yang
dilontarkan Luther mencakup topik yang cukup luas, dan beberapa yang penting
adalah:
a. Keselamatan
hanya karena iman saja
b. Alkitab
adalah satu-satunya yang berwenang dalam hal iman kristiani
c. Menolak
sifat korban dari Ekaristi
d.
Memperluas
peran awam dalam liturgy dan kepemimpinan gereja
e. Independensi
gereja local dari Roma
f. Menolak
praktek-praktek keagamaan Katolik, seperti ziarah, puasa, pengakuan dosa
g.
Keberatan
akan adanya penyalahgunaan, sepaerti
penjualan indulgensi, simonia, dsb.
Gerakan Reformasi tercabik-cabik sewaktu
para pengikut Luther tidak setuju dengan macam-macam unsur dari teologi Luther
dan mereka memulai Gereja mereka sendiri. Contohnya: Zwingli memimpi
pembaharuan gereja di Swiss, melepaskan diri dari Luther karena berbeda
pendapat tentang kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Yohanes Calvin menolak
pengertian imamat, pengaruh ini sangat kuat, khususnya di Swiss, Belanda, dan
Perancis dan Scotlandia.
Kelompok Anabaptis, bukanlah salah satu
gerakan, tetapi terdiri dari kelompok Protestan yang menolak baptis bayi dan
sangat menekankan penerimaan pribadi Yesus sebagai penebus. Di Inggris,
pembaharuan mulai dengan skisma yang dimulai oleh Henry VIII, yang menolak
huasa wewenang Roma tetapi tetap menerima aharan Katolik. Dibawah
Elisabeth, anak Henry VIII, unsure ajaran Protestan dimasukkan ke dalam gereja
Anglikan
2.
Kontra-Reformasi Katolik
Gereja
Katolik dipaksa mengakui kebenaran dakwaan dari kaum reformator. Banyak yang
setuju, tetapi dilain pihak umat Katolik percaya bahwa kaum reformator dalam
proses selanjutnya telah membuang beberapa unsure pokok iman kristiani dan
praktek hidup yang berharga.
Maka muncullah gerakan reformasi di dalam
Gereja Katolik yang disebut Kontra-Reformasi. Pada tahun 1545-1564, Paus
mengadakan Konsili Trente. Konsili ini mengakhiri banyak penyalahgunaan yang
dilontarkan oleh reformator dan menegaskan ajaran katolik tradisional dan
menetang ajaran baru kaum Protestan.
3.
Gereja Orthodox dan Reformasi
Tahun 1643
dan 1672, Gereja Orthodox menerima dua ‘Confessio’ dari iman kepercayaan
orthodox yang menentang pandangan Luther dan Calvin, dalam hubungan tradisi dan
gambar-gambar, jumlah dan makna sakramen dan keselamatan lewat iman dan
perbuatan.
Dalam dua
hal Gereja Orthodox sebagian setuju dengan pandangan Reformator tentang masalah
Canon Alkitab, dimana Orthodox menerima empat buku Apokripa (Tobit, Yudit,
Sirakh dan Kebijaksanaan). Sejalan
dengan reformator, mereka menolak pandangan Gereja Katolik tentang wewenang
Paus.
H.
Konsili Vatikan II (1962 – 1965)
Konsili
Ekumenis terakhir dalam Gereja Katolik
diadakan oleh Paus Yohanes XXIII guna memperbaharui Gereja Katolik selaras
dengan kebutuhan zaman modern. Konsili
itu mnghasilkan 16 dokumen. Beberapa hal yang penting dalam ajaran Konsili
ialah:
1.
keunggulan
Alkitab dalam iman Gereja;
2.
imamat semua kaum beriman;
3.
komitmen untuk menggalang kesatuan umat kristiani
(ekumenisme);
4.
keterlibatan aktif dalam perjuangan keadilan, damai dan
hak-hak azasi manusia;
5.
ibadah diadakan
dalam bahasa setempat kaum beriman;
6.
keselamatan Allah dalam kaum beriman agama lain.
I.
Gerakan Ekumenis
Tujuan
gerakan Ekumenis (kata Yunani “oikumene” berarti seluruh dunia yang dihuni)
dalam umat kristiani ialah untuk menemukan kembali kesatuan karena telah
terjadi perpecahan dalam komunitas kristiani sepanjang sejarah.
Gerakan
ekumenis dewasa ini dapat ditelusuri kembali ke Konferensi Edinburg. 1910 yang
memutuskan didirikannya Konferensi Kristiani Universal (1925), tentang Hidup
dan Sabda. Dua tahun kemudian, Konferensi Sedunia. 1927 tentang Iman dan
Tatanan, di Lausanne dan mempelajari dasar teologis untuk gereja dan kesatuan.
Pada pertemuan kedua, tahun 1937, dua lembaga itu bergabung menjadi satu
berwujud Dewan Gereja-gereja Sedunia. Lalu dibuatlah suatu konstitusi, 1938.
Akibat Perang Dunia II peresmian ditangguhkan dan baru dilaksanakan tahun 1948,
dan kota Geneva
dipilih sebagai pusat kantornya, sebab Swiss netral dalam masalah politik.
Pada Konsili Vatikan II, Gereja Katolik
memutuskan untuk ikut dalam gerakan ekumenis. Tahun 1964, Paus Paulus VI,
membuka suatu Sekretariat di Vatikan yang bertugas memajukan Kesatuan Umat
Kristiani. Saat ini, Gereja Katolik menjadi anggota penuh dari Dewan
Gereja-gereja setempat yang jumlahnya 58 negara.