Pengertian Sistem Ekresi
Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh,
seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat, selain itu
ekskresi juga dapat diartikan sebagai proses pembuangan sisa metabolisme
dan benda tidak berguna lainnya. Ekskresi merupakan proses yang ada
pada semua bentuk kehidupan. Pada organisme bersel satu, produk buangan
dikeluarkan secara langsung melalui permukaan sel. Sisa metabolisme yang
mengandung nitrogen ialah amonia (NH3), urea dan asam urat. Bahan
tersebut berasal dari hasil perombakan protein, purin, dan pirimidin.
Amonia dihasilkan dari proses deaminiasi asam amino. Amonia merupakan
bahan yan sangat racun dan merusak sel. Hewan- hewan yang
mengekskresikan amonia disebut amonotelik.
Bagi hewan yang hidup di darat amonia menjadi masalah untuk kelangsungan
hidupnya jika di timbun dalam tubuhnya. Karena itu pada hewan yang
hidup di darat amonia segera di rubah di dalam hati menjadi persenyawaan
yang kurang berbahaya bagi tubuhnya yaitu dalam bentuk urea dan asam
urat. Kebanyakan mamalia, amphibi dan ikan mengekskresikan urea dan
hewan-hewan tersebut dapat disebut ureotelik. Urea mudah larut dalam air
dan diekskresikan dalam cairan yang disebut urine. Pada burung, reptil,
keong darat, dan serangga asam urat yang diekskresikan berbentuk padat
bersama kotoran. Air dalam urine pada hewan-hewaan tersebut diabsorbsi
oleh tubuh untuk penghematan. Meskipun cara hidup dan habitat mempunyai
oeran penting pada ekskresi sisa metabolisme yang mengandung nitrogen.
Organisme multiselular memiliki proses ekskresi yang lebih kompleks.
Alat ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya berupa ginjal,
paru-paru, kulit, dan hati, sedangkan alat pengeluaran pada hewan
invertebrata berupa nefridium, sel api, atau buluh Malphigi. Sistem
ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu
melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur
konsentrasi sebagian besar penyusun cairan tubuh. Zat sisa metabolisme
adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa
ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain,
CO2, H20, NHS, zat warna empedu, dan asam urat.
Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat
makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa
tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2
berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar
(penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan
untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut. Amonia (NH3), hasil
pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel.
Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian,
jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak
menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna
empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan
oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan
dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan
urin. Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen
(sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan
amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah. Tugas pokok alat
ekskresi ialah membuang sisa metabolisme tersebut di atas walaupun alat
pengeluarannya berbeda-beda.
Fungsi sistem ekskresi, antara lain:
1. Membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari dalam tubuh
2. Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh (osmoregulasi)
3. Mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal (termoregulasi)
4. Homeostasis
Sistem Ekskresi Pada Hewan Invertebrata
Sistem ekskresi pada hewan rendah biasanya sesuai dengan habitatnya.
Berbagai habitat tempat hidup hewan seperti laut, air tawar dan daratan.
Berbagai alat ekskresi telah berkembang untuk mengeluarkan sampah
metabolisme, untuk mengatur keseimbangan air tubuh dan keseimbangan ion.
Hewan tingkat rendah belum memiliki ginjal yang berstruktur sempurna
seperti pada vertebrata. Pada umumnya, hewan tingkat rendah memiliki
sistem ekskresi yang sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara
invertebrata satu dengan invertebrata lainnya. Alat ekskresinya ada yang
berupa saluran Malphigi, nefridium, dan sel api. Nefridium adalah tipe
yang umum dari struktur ekskresi khusus pada invertebrata. Berikut ini
akan dibahas sistem ekskresi pada cacing pipih (Planaria), cacing gilig
(Annellida), dan belalang.
2.1.1 Ekskresi Pada Amuba
Amuba dan banyak organisme bersel tunggal lainnya hidup dalam lingkungan
berair dan membuang limbah metaboliknya secara difusi sama seperti yang
dilakukan tumbuhan air. Bagi kebanyakan, produk akhir yang utama
metabolisme protein adalah amonia, zat ini mudah terdifusi keluar dari
selnya sebelum selesai dari konsentrasi yang membahayakan. Akan tetapi,
dengan cara tersebut organisme tidak dapat melakukan apa-apa terhadap
berlebih, karena tidak dilengkapi dengan sel dinding yang kaku, binatang
ini tidak dapat melawan masuknya air secara terus menerus. Masalah ini
dapat teratasi dengan vakoula kontraktil (rongga berdenyut) yang
berfungsi untuk mengatur kadar airt dalam sel sehingga nilai osmosis isi
sel tetap terpelihara. Energi digunakan untuk memaksa air untuk keluar
lagi dari selnya dan kedalam air disekitarnya. Bolehjadi vakuola
kontratil tidak memainkan peranan yang penting dalam ekskresi substansi
lain-lain.
2.1.2 Sistem Ekskresi Pada Cacing Pipih
Gambar: Sistem eksresi cacing pipih
Platyhelminthes adalah cacing daun yang umumnya bertubuh pipih.
Platyhelminthes memiliki tubuh, lunak, dan epidermis bersilia. Cacing
pipih merupakan hewan tripoblastik yang tidak mempunyai rongga tubuh
(acoelomata). Hidup biasanya di air tawar, air laut, dan tanah lembab.
Ada pula yang hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Cacing
parasit ini mempunyai lapisan kutikula dan silia yang hilang setelah
dewasa. Hewan ini mempunyai alat pengisap yang mungkin disertai dengan
kait untuk menempel. Cacing pipih belum mempunyai sistem peredaran darah
dan sistem pernafasan. Sedangkan sistem pencernaannya tidak sempurna,
tanpa anus. Platyhelminthes terbagi dalam 3 kelas, yaitu Kelas
Turbellaria, Kelas Trematoda dan kelas Cestoda.
Pada cacing pipih (Platyhelmintes) alat eksresi berupa protonefridium
yang mempunyai sel api (flame cel) berflagel. Flagel berfungsi
menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi. Air dan zat
sisa masuk ke dalam sel api yang selanjutnya dikeluarkan melalui lobang
nefridiofor. Sebagian sisa nitrogen tidak masuk ke saluran ekskresi
tetapi masuk ke sistem pencernaan yang selanjutnya diekskresikan melalui
mulut. Cacing pipih juga mempunyai organ nefridium yang disebut sebagai
protonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung dengan ujung
membesar mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang
dilengkapi dengan silia. Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang
gerakannya seperti gerakan api lilin. Air dan beberapa zat sisa ditarik
ke dalam sel api. Gerakan flagela juga berfungsi mengatur arus dan
menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi.
Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi pembuluh ekskresi yang
terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh (nefridiofora). Air
dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini. Sebagian besar sisa nitrogen
tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke
sistem pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa
berdifusi secara langsung dari sel ke air.
Gambar: Struktur alat ekskresi pada casing pipih
2.1.1 Sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska
Alat ekskresi pada annelida ialah nefridium. Ada beberapa macam nefridia
misalnya protonefridia yang memepunyai solonosit (sel api) yang serupa
dengan alat ekskresi pada cacing pipih. Macam nefridia yang lain
terdapat pada annelida yang hidup di darat yang disebut metanefridia.
Pada cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap segmen dalam
tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada tiga segmen
pertama dan terakhir. Metanefridium terdapat sepasang pada tiap segmen
kecuali segmen terakhir. Metanefridium memiliki dua lobang saluran yaitu
nefrostom di anterior dan nefrostom di posterior. Cairan tubuh mengalir
melalui nefridium, zat yang diperlukan tubuh seperti air, zat makanan
dan ion-ion diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem
peredaran dan zat sisa (sampah nitrogen ) diekskresikan melalui
nefridioifor.
Gambar: Sistem ekskresi pada anelida
Nefrostom ada di dalam rongga tubuh, yang penuh dengan cairan yang
terutama merupakan sistem limfa tersaring dari sistem peredaran
tertutup. Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong
(nefrostom) akan berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen
berikutnya. Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan
membesar seperti gelembung. Kemudian gelembung ini akan bermuara ke
bagian luar tubuh melalui pori yang merupakan lubang (corong) yang
kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom
masuk ke nefridium oleh gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh
mengalir lewat celah panjang nefridium, bahan-bahan yang berguna seperti
air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel tertentu dari
tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan
lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang
diekskresikan keluar.
Metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan
mengembalikan substansi yang berguna ke sistem sirkulasi. Cairan dalam
rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa
ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu
ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan
yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi
ureum diekskresikan lewat sistem ekskresi.
Pada mollusca alat ekskresinya disebut ginjal yang merupakan kumpulan
dari nefridia. Ginjal berhubungan dengan coulum dan kaya akan pembuluh
darah. Terjadi filtrasi sisa-sisa metabolisme dari darah melalui
pembuluh kapiler ke saluran nefridia.
2.1.2 Alat Ekskresi pada Belalang
Gambar: Sistem Ekskresi pada belalang
Pada belalang alat ekskresinya adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat
pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh
Malphigi merupakan pembuluh-pembuluh buntu yang bermuara pada sistem
pencernaan makanan antara saluran pencernaan tengah atau lambung dengan
usus. Hampir semua serangga mempunyai pembuluh Malpighi. Jumlah pembuluh
antara 2-250 buah. Pembuluh Malphigi mengasorbsi sisa metabolisme darah
pada rongga tubuh. Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki
sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa
CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara
konsentrasi air di dalam tubuhnya.
Gambar: Pembuluh Malpighi pada belalang
Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang
disebut asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut.
Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang.
Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat
bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen
diendapkan sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam diserap
kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat dan sisa
air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam
urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan feses.
2.2 Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebtara
Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ
paru-paru, kulit, ginjal, dan hati. Namun yang terpenting dari keempat
organ tersebut adalah ginjal.
2.2.1 Ginjal
Dunia kedokteran biasa menyebutnya ‘ren’ (renal/kidney). Bentuknya
seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah
pinggang. Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya antara 120-170 gram.
Struktur ginjal terdiri dari: kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal
(medula) dan rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal terdapat
jutaan nefron yang berfungsi sebagai penyaring darah. Setiap nefron
tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang
bergelung. Badan Malpighi tersusun oleh Simpai Bowman (Kapsula Bowman)
yang didalamnya terdapat Glomerolus. Ginjal vertebrata mengalami
perkembangan baik secara evolusi atau sejalan dengan perkembangan
embrio. Fungsi utama ginjal adalah mengekskresikan zat-zat sisa
metabolisme yang mengandung nitrogen misalnya amonia. Amonia adalah
hasil pemecahan protein dan bermacam-macam garam, melalui proses
deaminasi atau proses pembusukan mikroba dalam usus. Selain itu, ginjal
juga berfungsi mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya
vitamin yang larut dalam air mempertahankan cairan ekstraselular dengan
jalan mengeluarkan air bila berlebihan serta mempertahankan keseimbangan
asam dan basa. Sekresi dari ginjal berupa urin.
Struktur Ginjal
Bentuk ginjal seperti kacang merah, jumlahnya sepasang dan terletak di
dorsal kiri dan kanan tulang belakang di daerah pinggang. Berat ginjal
diperkirakan 0,5% dari berat badan, dan panjangnya ± 10 cm. Setiap menit
20-25% darah dipompa oleh jantung yang mengalir menuju ginjal.
Ginjal terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
a. korteks (bagian luar)
b. medulla (sumsum ginjal)
c. pelvis renalis (rongga ginjal).
Bagian korteks ginjal mengandung banyak sekali nefron ± 100 juta
sehingga permukaan kapiler ginjal menjadi luas, akibatnya perembesan zat
buangan menjadi banyak. Setiap nefron terdiri atas badan Malphigi dan
tubulus (saluran) yang panjang. Pada badan Malphigi terdapat kapsul
Bowman yang bentuknya seperti mangkuk atau piala yang berupa selaput sel
pipih. Kapsul Bowman membungkus glomerulus. Glomerulus berbentuk
jalinan kapiler arterial. Tubulus pada badan Malphigi adalah tubulus
proksimal yang bergulung dekat kapsul Bowman yang pada dinding sel
terdapat banyak sekali mitokondria. Tubulus yang kedua adalah tubulus
distal. Pada rongga ginjal bermuara pembuluh pengumpul. Rongga ginjal
dihubungkan oleh ureter (berupa saluran) ke kandung kencing (vesika
urinaria) yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara urin
sebelum keluar tubuh. Dari kandung kencing menuju luar tubuh urin
melewati saluran yang disebut uretra.
Proses-proses di dalam Ginjal. Di dalam ginjal terjadi rangkaian prows filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi.
Penyaringan (filtrasi)
Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada
glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit)
sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang
mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan
permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di
glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah,
dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam
plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida,
bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian
dari endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer)
yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein.
Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa,
natrium, kalium, dan garamgaram lainnya.
Penyerapan kembali (Reabsorbsi)
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu,
99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus
kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada
tubulus kontortus distal.
Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan
ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat
dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari
178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari
zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali. Setelah terjadi reabsorbsi maka
tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda
dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masi.
2.2.2 Kulit
Merupakan lapisan terluar dari tubuh kita, yang tediri dari 2 lapisan yaitu lapisan epidermis (luar) dan dermis (dalam).
Epidermis,terdiri :
- stratum korneum, merupakan lapisan zat tanduk, mati dan selalu mengelupas.
- stratum lusidium, merupakan lapisan zat tanduk
- stratum granulosum, mengandung pigmen
- stratum germonativum, selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar
Dermis (korium), terdiri :
- akar rambut
- pembuluh darah
- syaraf
- kelenjar minyak (glandula sebasea)
- kelenjar keringat (glandula sudorifera)
- lapisan lemak, terdapat di bawah dermis yang berfungsi melindungi tubuh dari pengaruh suhu luar
2.2.3 Paru-paru (pulmo)
Penguraian karbohidrat (glukosa) dan lemak kecuali menghasilkan energi
akan menghasilkan zat sisa berupa CO2 dan H2O yang akan dikeluarkan
lewat paru-paru.
Seseorang yang berada dalam daerah dingin waktu ekspirasi akan tampak
menghembuskan uap. Uap tersebut sebenarnya merupakan carbondioksisa dan
uap air yang dikeluarkan saat terjadi pernafasan.
2.2.4 Hati (hepar)
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, terdapat di rongga perut
sebelah kanan atas, berwarna kecoklatan. Hati mendapat suplai darah dari
pembuluh nadi (arteri hepatica) dan pembuluh gerbang (vena porta) dari
usus. Hati dibungkus oleh selaput hati (capsula hepatica). Hati terdapat
pembuluh darah dan empedu yang dipersatukan selaput jaringan ikat
(capsula glison). Hati juga terdapat sel-sel perombak sel darah merah
yan gtelah tua disebut histiosit.
Sebagai alat eksresi hati menghasilkan empedu yang merupakan cairan
jernih kehijauan, di dalamnya mengandung zat warna empedu (bilirubin),
garam empedu, kolesterol dan juga bacteri serta obat-obatan. Zatr warna
empedu terbentuk dari rombakan eritrosit yang telah tua atau rusak akan
ditangkap histiosit selanjutnya dirombak dan haeglobinnya dilepas.
Fungsi hati :
- menyimpan kelebihan gula dalam bentuk glikogen (gula otot)
- merombak kelebihan asam amino (deaminasi)
- menawarkan racun
- membentuk protombin dan fibrinogen
- membentuk albumin dan globulin
- mengubah provitamin A menjadi vitamin A
- tempat pembentukan urea
- menghasilkan empedu
- tempat pembentukan dan penghancuran eritrosit yang telah tua
Sistem ekskresi pada mamalia
Sistem Ekskresi pada mamalia hampir sama dengan manusia tetapi sedikit
berbeda karena mamalia dipengaruhi/disebabkan oleh lingkungan tempat
tinggalnya. Paru-paru mamalia mempunyai permukaan ber spon (spongy
texture) dan dipenuhi liang epitelium dengan itu mempunyai luas
permukaan per isipadu yang lebih luas berbanding luas permukaan
paru-paru. Paru-paru manusia adalah contoh biasa bagi paru-paru jenis
ini.
Paru-paru terletak di dalam rongga dada (thoracic cavity), dilindungi
oleh struktur bertulang tulang selangka dan diselaputi karung dua
dinding dikenali sebagai pleura. Lapisan karung dalam melekat pada
permukaan luar paru-paru dan lapisan karung luar melekat pada dinding
rongga dada. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh lapisan udara yang
dikenali sebagai rongga pleural yang berisi cecair pleural ini
membenarkan lapisan luar dan dalam berselisih sesama sendiri, dan
menghalang ia daripada terpisah dengan mudah.
Bernafas kebanyakannya dilakukan oleh diafragma di bawah, otot yang
mengucup menyebabkan rongga di mana paru-paru berada mengembang. Sangkar
selangka juga boleh mengembang dan mengucup sedikit. Ini menyebabkan
udara tetarik ke dalam dan keluar dari paru-paru melalui trakea dan
salur bronkus (bronkhial tubes) yang bercabang dan mempunyai alveolus di
ujung yaitu karung kecil dikelilingi oleh kapilari yang dipenuhi darah.
Di sini oksigen meresap masuk ke dalam darah, di mana oksigen akan d
angkut melalui hemoglobin. Darah tanpa oksigen dari jantung memasuki
paru-paru melalui pembuluh pulmonari dan lepas dioksigenkan, kembali ke
jantung melalui salur pulmonari.
Sistem Ekskresi Pada Ikan
Ikan air tawar, sebagaimana hewan air tawar . Ikan mempunyai system
ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut
urogenital.Lubang urogenital ialah lubang tempat bermuaranya saluran
ginjal dan saluran kelamin yang berada tepat dibelakang anus.
Ginjal pada umumnya terletak antara columna vertebralis dan gas bladder.
Ginjal terdiri dari dua bagian yaitu caput renalis anterior yang
tersusun atas jaringan hemapoeitik, limfoid dan endokrin serta trunkus
renalis posterior yang tersusun atas nefron-nefron dikelilingi jaringan
limfoid interstitial. Sisi kanan dan kiri dari trunkus renalis berfusi
dan membentuk lengkungan yang mengisi ruangan diantara kedua gas
bladder. Di bagian posterior dari lengkungan ini trunkus renalis menipis
menyesuaikan lekukan pada gas bladder. Caput renalis terpisah atas
bagian kana dan kiri, terletak di anterior dari lengkungan tersebut
memasuki daerah cranium.
Cairan tubuh dari ikan air tawar memiliki konsentrasi ion yang lebih
tinggi dibanding dengan lingkungan sekitarnya, kondisi ini disebut
dengan hiperosmotik. Untuk mempertahankan gradient konsentrasi tersebut
dibutuhkan system pembuangan dan konserbasi dari ion-ion disamping
adanya proses ekskresi air yang telah difiltrasi oleh ginjal. Proses
filtrasi ini dilakukan ginjal yaitu pada bagian nefron glomerulus yang
terdiri dari corpus renalis dan tubulus renalis. Corpus renalis terdiri
atas glomerulus-glomerulus yang diselubungi oleh capsula Bowman.
Epitelia parietalis dan visceralis membentuk “Bowman’s space” yang
memisahkan glomerulus dengan bagian-bagian lain dari ginjal. Glomeruli
berukuran kecil dan avasculer dengan tubuli renalis yang mempunyai 6
regio sitologis yang berbeda.
1. N yang mengisolasi glomerulus. Neck region memiliki lumen yang
dikelillingi oleh sel-sel epitel kuboid bersilia sampai kolumner pendek.
Sitoplas,a dari sel-sel ini tercat basofilik tipis.
2. Tubulus proximalis primer diselubungi oleh epitel-epitel kolumner
tinggi dengan nuclei basalis dan sitoplasma yang tercat eosinofilic
tipis. Microvilli dengan puncak berbentuk tepi sikat menjulur kelumen.
3. Tubulus proximalis sekunder masih tersusun atas sel-sel epitel
kolumner tinggi dengan nuclei yang terletak lebih central dan tepi-tepi
sikat yang berkembang lebih baik. Adanya bangunan mitokondria dalam
jumlah yang besar menyebabkan sitoplasma tercat eosinofilik.
4. Tubulus intermedius memiliki lumen yang sempit dikelilingi oleh
sel-sel epitel kuboid sampai kolumner pendek dengan tepi-tepi sikat yang
tidak jelas.Sel-sel ini tercat eosinofilik kuat.
5. Tubulus distalis tersusun atas sel-sel epitel kolumner yang besar.
Nucleus terletak di tengah sedangkan tepi-tepi sikat mereduksi atau
tidak ada.
6. Tubulus conectivus berukuran lebih besar daripada tubulus distalis.
Sel-sel epitel kolumner tercat eosinofilik lemah dengan nucleus terletak
di basal dan tidak adanya tepi-tepi sikat. Tubulus ini terus membesar
sampai muaranya dengan adanya perubahan sel-sel epitel dari kolumner
menjadi epitel pseudostratified yang mempunyai sel-sel goblet.
Tubulus-tubulus yang lebih besar bergabung dengan lapisan otot polos dan
jaringan pengikat. Rodlet cells dan intercalated cells (leukosit) biasa
dijumpai pada epithelium ductus colectivus. eck region merupakan
lanjutan dari epitelia parietalis dan visceralis dari capsula Bowman.
Ginjal pada ikan yang hidup di air tawar dilengkapi sejumlah glomelurus
yang jumlahnya lebih banyak. Sedangkan ikan yang hidup di air laut
memiliki sedikit glomelurus sehingga penyaringan sisa hasil metabolisme
berjalan lambat.
Sistem Ekskresi Pada Amfibi
Ginjal amphibi sama denga ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk
mengeluarkan air yang berlebvih. Karea kulit katak permeable terhadap
air, maka pada saat ia berada di air, banyak iar masuk ke tubuh katak
secara osmosis. Pada saat ia berada di darat harus melakukan konservasi
air dan tidak membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan
air sesuai dengan lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi yang
dilakukan oleh glomerulus, sistem portal renal berfungsi untuk membuang
bahan – bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa aliran darah
melalui glomerulus dibatasi. Katak juga menggunkan kantung kemih untuk
konserfadsi air. Apabila sedang berada dia air, kantung kemih terisi
urin ynag encer. Pada saat berada di daarat air diserap kembali ke dalam
darah menggantikan air yang hilang melalui evaporasi kulit. Hormon yang
mengendalikan adalah hormon yang sama dengan ADH.
Saluran ekskresi pada katak yaitu ginjal, paru-paru,dan kulit. Saluran
ekskresi pada katak jantan & betina memiliki perbedaan, pada katak
jantan saluran kelamin & saluran urin bersatu dengan ginjal,
sedangkan pada katak betina kedua saluran itu terpisah. Walaupun begitu
alat lainnya bermuara pada satu saluran dan lubang pengeluaran yang
disebut kloaka.
Sistem Ekskresi Pada Reptil
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka.
Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil
metabolisme.Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa
asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna
putih
.
2.3 Sistem Ekresi pada Manusia
Gambar: Sistem ekresi pada manusia
Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang
zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa
pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20),
amonia (NH3), urea dan zat warna empedu.
Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan
harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit.
Gambar: Alat-alat ekskresi pada manusia yang berupa ginjal, kulit, paru-paru, dan kelenjarkeringat
Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari:
1. Paru-paru,
2. Hati,
3. Kulit, dan
4. Ginjal
2.3.1 Paru-paru
Paru-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan dan kiri
yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua
bagian, yaitu paru-paru kanan yang memiliki tiga gelambir dan paru-paru
kiri memiliki dua gelambir. Paru-paru sebenarnya merupakan kumpulan
gelembung alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut selaput
pleura.
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia
karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi,
paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan KARBONDIOKSIDA (CO2) dan UAP AIR
(H2O). Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen
dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah
menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan
dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan
dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung
Kelainan-kelainan pada paru-paru, diantaranya adalah:
1. Asma atau sesak nafas, yaitu kelainan yang disebabkan oleh
penyumbatan saluran pernafasan yang diantaranya disebabkan oleh alergi
terhadap rambut, bulu, debu atau tekanan psikologis.
2. Kanker Paru-Paru, yaitu gangguan paru-paru yang disebabkan oleh
kebiasaan merokok. Penyebab lain adalah terlalu banyak menghirup debu
asbes, kromium, produk petroleum dan radiasi ionisasi. Kelainan ini
mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru.
3. Emphysema, adalah penyakit pembengkakan paru-paru karena pembuluh darahnya terisi udara.
Upaya menghindari dan mengatasi kelainan-kelainan pada paru-paru adalah dengan menjalankan pola hidup sehat, diantaranya:
1. Mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi secara teratur
2. Berolah raga dengan teratur
3. Istirahat minimal 6 jam per hari
4. Mengindari konsumsi rokok, minum minuman beralkohol dan narkoba
5. Hindari Stress
2.3.2 Hati (Hepar)
Hati merupakan “kelenjar” terbesar yang terdapat dalam tubuh manusia.
Letaknya di dalam rongga perut sebelah kanan. Berwarna merah tua dengan
berat mencapai 2 kilogram pada orang dewasa. Hati terbagi menjadi dua
lobus, kanan dan kiri. Zat racun yang masuk ke dalam tubuh akan disaring
terlebih dahulu di hati sebelum beredar ke seluruh tubuh. Hati menyerap
zat racun seperti obat-obatan dan alkohol dari sistem peredaran darah.
Hati mengeluarkan zat racun tersebut bersama dengan getah empedu.
Hati merupakan organ yang sangat penting, berfungsi untuk:
1. Menghasilkan empedu yang berasal dari perombakan sel darah merah
2. Menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan membunuh bibit penyakit
3. Mengubah zat gula menjadi glikogen dan menyimpanya sebagai cadangan gula
4. Membentuk protein tertentu dan merombaknya
5. Tempat untuk mengubah pro vitamin A menjadi vitamin
6. Tempat pembentukan protrombin yang berperan dalam pembekuan darah
Zat warna empedu hasil perombakan sel darah merah yang telah rusak tidak
langsung dikeluarkan oleh hati, tetapi dikeluarkan melalui alat
pengeluaran lainnya. Misalnya, akan dibawa oleh darah ke ginjal dan
dikeluarkan bersama-sama di dalam urin.
Gangguan pada hati yang umumnya dijumpai di masyarakat saat ini adalah
hepatitis ataupenyakit kuning. Disebut demikian karena tubuh penderita
menjadi kekuningan, disebabkan zat warna empedu beredar ke seluruh
tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh serangan virus yang dapat menular
melalui makanan, minuman, jarum suntik dan transfusi darah.
Hepatitis adalah peradangan pada sel-sel hati. Penyebab penyakit
hepatitis yang utama adalah virus. Virus hepatitis yang sudah ditemukan
sudah cukup banyak dan digolongkan menjadi virus hepatitis A, B, C, D,
E, G, dan TT.
Beberapa jenis hepatitis yang saat ini harus diwaspadai adalah:
1. Hepatitis A yang disebabkan oleh Virus Hepatitis A (VHA)
2. Hepatitis B yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB)
3. Hepatitis C yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C (VHC)
Cara mengatasi kelainan-kelainan pada hati diantaranya adalah dengan:
1. Pemberian vaksinasi
2. Makan makanan yang sehat
3. Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang
4. Berolahraga dengan teratur
5. Sterilisasi penggunaan jarum suntik
6. Menghindari pergaulan bebas (berganti-ganti pasangan)
2.3.3 Kulit
Seluruh permukaan tubuh kita terbungkus oleh lapisan tipis yang sering
kita sebut kulit. Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang
utama karena berada di lapisan anggota tubuh yang paling luar dan
berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar.
Fungsi kulit antara lain sebagai berikut:
- mengeluarkan keringat
- pelindung tubuh
- menyimpan kelebihan lemak
- mengatur suhu tubuh, dan
- tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet
• Proses pembentukan keringat
Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita
tinggi, pembuluh-pembuluh darah di kulit akan melebar. Hal ini
mengakibatkan banyak darah yang mengalir ke daerah tersebut. Karena
pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan pembuluh darah maka
terjadilah penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar
keringat. Kemudian air bersama larutannya keluar melalui pori-pori yang
merupakan ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar membawa
panas tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap
normal.
Kelainan pada kulit yang banyak dialami oleh para remaja adalah jerawat. Ada tiga tipe jerawat, yaitu:
1. Komedo
2. Jerawat biasa
3. Cystic Acne (Jerawat Batu/Jerawat Jagung)
Banyak jenis obat dan perawatan yang ditawarkan untuk menghilangkan
jerawat. Namun, sesungguhnya alam sudah menyediakan aneka tanaman yang
mampu menghilangkan jerawat. Tanaman-tanaman itu antara lain tomat,
jeruk nipis, belimbing wuluh, mentimun, dan temulawak.
• Mengatasi kelainan pada kulit
Kulit perlu mendapat perawatan yang tepat agar senantiasa sehat. Berikut 4 langkah perawatan kulit yang sangat mendasar:
1. Makan Makanan Yang Mengandung Nutrisi
Kulit seperti juga organ tubuh lain, terdiri atas sel-sel yang
berkembang dan membutuhkan berbagai nutrisi. Nutrisi pada kulit
digunakan untuk mengaktifkan sirkulasi darah ke kulit, menjaga
kelenturan dan kekencangan kulit serta mencegah oksidasi lemak yang
menyebabkan kulit menjadi kering.
2. Minum Air Putih Minimal 8 Gelas Setiap Hari
Air berfungsi sebagai media untuk mengangkut dan membuang zat-zat yang
tidak dibutuhkan tubuh dan mencegah kekeringan. Selain 8 gelas air segar
setiap hari, asupan cairan yang baik bagi kulit bisa didapatkan dari
buah dan sayuran.
3. Berolahraga Dengan Teratur
Olahraga teratur 3 kali seminggu akan membantu kelancaran sirkulasi darah, sehingga asupan nutrisi kulit terpenuhi.
4. Mandi Untuk Membersihkan Badan
Mandi secara teratur menggunakan sabun, bermanfaat menghilangkan lemak
dan kotoran pada permukaan kulit. Namun kita perlu berhati-hati dalam
memilih sabun, karena detergen yang terkandung di dalamnya cenderung
meningkatkan pH kulit sehingga dapat menyebabkan kekeringan pada kulit.
2.3.4 Ginal
Dunia kedokteran biasa menyebutnya ‘ren’ (renal/kidney). Bentuknya
seperti kacangmerah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang.
Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya antara 120-170 gram. Struktur
ginjal terdiri dari: kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan
rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal terdapat jutaan nefron
yang berfungsi sebagai penyaring darah. Setiap nefron tersusun dari
Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang bergelung. Badan
Malpighi tersusun oleh Simpai Bowman (Kapsula Bowman) yang didalamnya
terdapat Glomerolus.
Fungsi ginjal
1. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh
2. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan
3. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal
4. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia
5. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang
Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui
serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan
augmentasi.
• Penyaringan (filtrasi)
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di
kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit),
tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses
penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan
kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma.
Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa,
asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati
saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di
glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam
amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya.
• Penyerapan kembali (reabsorbsi)
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap
kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus
distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada
tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui
peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan
air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino
dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin,
kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder,
zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya,
konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah,
misalnya urea.
• Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi
di tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan
menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran
ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong
kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin
akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang dikeluarkan melalui
uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen
empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
Kelainan-kelainan pada ginjal diantaranya adalah gagal ginjal dan batu
ginjal. Gagal ginjal merupakan kelainan pada ginjal dimana ginjal sudah
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya yaitu menyaring dan
membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme.
Penyebab terjadinya gagal ginjal antara lain disebabkan oleh:
1). Makan makanan berlemak
2). Kolesterol dalam darah yang tinggi
3). Kurang berolahraga
4). Merokok, dan
5). Minum minuman beralkohol.
1. Mengatasi Gagal Ginjal
Kemajuan ilmu pengetahuan, memungkinkan fungsi ginjal digantikan.
Penggantian fungsi tersebut dikenal dengan Renal Replacement Therapy
(RRT) atau Terapi Pengganti Ginjal (TPG). Ada dua cara TPG, yakni
transplantasi/cangkok ginjal dan dialisis/cuci darah . Dialisis/cuci
darah dibedakan menjadi:
- HD (Hemodialisis), dialisis dengan bantuan mesin
- PD (Peritoneal Dialisis), dialisis melalui rongga perut
2. Batu Ginjal
Urine banyak mengandung mineral dan berbagai bahan kimiawi. Urin belum
tentu dapat melarutkan semua itu. Apabila kita kurang minum atau sering
menahan kencing, mineral-mineral tersebut dapat mengendap dan membentuk
batu ginjal.
Batu ginjal merupakan kristal yang terlihat seperti batu yang terbentuk
di ginjal. Kristal-kristal tersebut akan berkumpul dan saling berlekatan
untuk membentuk formasi “batu”. Apabila batu tersebut menyumbat saluran
kemih antara ginjal dan kandung kemih, saluran kemih manusia yang mirip
selang akan teregang kuat karena menahan air seni yang tidak bisa
keluar. Hal itu tentu menimbulkan rasa sakit yang hebat.
2.4 Kelainan-keainan pada Sistem Ekskresi
Kelainan dan penyakit yang menyerang sistem ekskresi dapat disebabkan
oleh banyak hal. Misalnya virus, bakteri, jamur. Efek samping obat atau
pola makan yang tidak sehat. Beberapa penyakit pada sistem ekskresi
antara lain sebagai berikut.
1. Albuminuria
Albuminuria adalah penyakit pada sistem ekskresi yang ditandai dengan
urine penderita mengandung albumin. Albumin merupakan protein yang
bermanfaat bagi manusia karena berfungsi untuk mencegah agar cairan
tidak terlalu banyak keluar dari darah. Penyakit ini rnenyebabkan
terlalu banyak albumin yang lolos dari saringan ginjal dan terbuang
bersama urine. Penyakit ini antara lain disebabkan oleh kekurangan
protein. penyakit ginjal. dan penyakit hati
2. Hematuria
Hematuria (kencing darah) adalah penyakit pada sistem ekskresi yang
ditandai dengan urine penderita mengandung darah. Penyakit ini antara
lain disebabkan oleh peradangan gnjal, batu ginjal, dan kanker kandung
kemih.
3. Nefrolitiasis
Nefrolitiasis (batu ginjal) adalah penyakit pada sistem ekskresi yang
ditandai dengan adanya batu pada ginjal. saluran ginjal, atau kandung
kemih. Batu ginjal pada umumnya mengandung garam kalsium ( zat kapur)
antara lain kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campurannya. Batu
ginjal terbentuk karena konsentrasi unsur-unsur tersebut dalam urine
tinggi. yang dipercepat dengan infeksi dan penyumbatan pada ureter.
Penyakit ini diobati dengan cara mengeluarkan batu ginjal. Apabila batu
ginjal masih berukuran kecil, dapat dihancurkan dengan obat-obatan.
Apabila batu ginjal sudah berukuran besar, harus dikeluarkan dengan
tindakan operasi. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi, batu ginjal dapat
dihancurkan dengan gelombang suara yang berintensitas tinggi tanpa perlu
tindakan operasi.
4. Nefritis
Nefritis adalah penyakit pada sistem ekskresi yang ditandai dengan
peradangan ginjal. khususnya nefron. Proses peradangan biasanya berasal
dari glomerulus, kemudian menyebar ke jaringan sekitarnya. Penyakit ini
harus segera ditangani dokter. Gangguan berupa radang ginjal yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan ginjal.
5. Gagal Ginjal
Gagal ginjal adalah ketidakmampuan, ginjal menjalankan fungsinya,
akibatnya zat-zat yang seharusnya dapat dikeluarkan rnelalui ginjal
menjadi tertumpuk di dalam darah. Salah satu contohnya adalah timbulnya
uremia, yaitu peningkatan kadar urea di dalam darah. Kadar urea darah
yang tinggi dapat menimbulkan keracunan dan mengakibatkan kematian.
Gagal ginjal antara lain disebabkan oleh nefritis. Penyakit ini dapat
diatasi dengan dua alternatif. Pertama melakukan dialisis ginjal (cuci
darah) yang diIakukan secara rutin. Kedua dengan transplantasi (cangkok)
ginjal dari donor. Cangkok ginjal dapat dilakukan jika ada kecocokan
antara organ donor dan jaringan penderita sehingga tidak terjadi
penolakan.
6. Diabetes Insipidus
Diabetes insipidus adalah penyakit pada sistem ekskresi yang ditandai
dengan meningkatnya jumlah urine sampai 20-30 kali lipat karena
kekurangan hormon antidiuretika (ADFI). Penyakit ini dapat diatasi
dengan pemberian ADH sintetik.
7. Diabetes Melitus
Diabetes melitus (kencing manis) adalah penyakit pada sistem ekskresi
yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi normal karena
kekurangean hormon insulin. Kelebihan glukosa darah akan dikeluarkan
bersama urine. Diabetes melitus pada anak diatasi dengan penyuntikan
insulin secara rutin. Diabetes melitus pada orang dewasa dapat diatasi
dengan mengatur diet, olahlaga. dan pemberian obat-obatan penurun kadar
glukosa darah.
8. Hepatitis
Hepatitis adalah radang hati yang umumnya disebabkan oleh virus.
Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin hepatitis, menjaga kebersihan
lingkungan. menghindari kontak langsung dengan penderita hepatitis dan
tidak menggunakan jarum suntik untuk pemakaian lebih baik satu kali.
Beberapa hepatitis. antara lain hepatitis A dan B. Penderita hepatitis
mengalami perubahan warna kulit dan putih mata menjadi berwarna kuning.
Urine penderita pun berwarna kuning. bahkan kecokelatan seperti teh.
9. Sirosis Hati
Sirosis hati adalah kelainan pada hati yang ditandai dengan timbulnya
jaringan parut dan kerusakan sel-sel normal hati. Sirosis hati sering
terjadi pada peminum alkohol, keracunan obat-obatan, infeksi bakteri.
atau komplikasi hepatitis. Karena hati merupakan organ yang mempunyai
banyak fungsi vital, sirosis hati akan menimbulkan beberapa akibat,
antara lain gangguan kesadaran, koma, dan kematian. Pengobatan sirosis
hati ditujukan pada penyebab utamanya, pemulihan fungsi hati. sampai
transplantasi hati.
10. Gangren
Gangren adalah kematian jaringan lunak yang disebabkan oleh gangguan
pengaliran darah ke jaringan tersebut. Gangren sering terjadi di tangan
dan kaki karena gangguan aliran darah. Ganggren banyak terjadi pada
penderita diabetes melitus dan aterosklerosis yang sudah lanjut.
Jaringan yang terkena mula-mula menjadi kebiruan dan terasa dingin jika
disentuh. kemudian menghitam dan berbau busuk. Untuk mengatasi infeksi
diperlukan antibiotik. Pada keadaan yang tidak tertolong bagian tubuh
yang terkena gangren harus diamputasi.
11. Kencing Batu
Kencing batu disebabkan pembentukan endapan zat kapur (kalium) dalam
ginjal. Endapan ini dapat terjadi pada rongga ginjal atau dalam kantong
kemih. Jika endapan terbentuk di dalam rongga ginjal disebut batu
ginjal. Jika terbentuk di dalam kantong kemih disebut kencing batu.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymoous,2009 . Sistem ekskresi pada hewan vertebrata.http / free.vlsm.praweda/biologi.diakses tanggal 14 maret 2009.
Anonymoous,2009.”http://www.crayonpedia.org/mw/Sistem_Ekskresi_Pada_Manusia_Dan_Hubungannya_Dengan_Kesehatan_9.1″Kategori:
IPA 9.1
Febrian , hendra, 2009. System ekskresi pada hewan . http/ www.free.vslm.praweda/biologi.diakses tanggal 14 maret 2009.
Kimball, John W,1994. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Wahyu, Guntur, 2009. System ekskresi pada hewan invertebrate. http/www.wikipedia.com.diakses tanggal 14 maret 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar