Sejarah Tentang Keberadaan Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur)
Sudah Tentu Banyak Yang Ingin Mengetahuinya, Meski Hal Itu Sekedar
Hanya Untuk Menambah Wawasan Kita Semata. Berdirinya Timor Diyakini Oleh
Sebagian Kalangan Telah Ada Sebelum Masa Kedatangan Portugis. Ada
Beberap Versi Penceritaan Yang Mengungkapkan Tentang Beberapa
Kemungkinan Berdirinya Timor. Berdasarkan Penelitian Bahasa, Ternyata
Kata Cupa Berasal Dari Bahasa Spanyol Atau Dapat Juga Merupakan Bahasa
Inggris Kuno, Cupa Atau Cuppe, Yang Artinya Kendi Berukir Indah Yang
Biasanya Memang Dijadikan Sebagai Cindera Mata. Sehingga Kemungkinan
Besar Versi Cerita Tentang Nahkoda Dan Rombongan Asing Pertama Yang
Berasal Dari Spanyol. Namun Perlu Menjadi Catatan Bahwa Pada Masa
Penguasaan Portugis Maupun Belanda, Kupan Ditulis Dan Diucapkan Dalam
Lima Versi Yaitu Cupao, Coupan, Cupam, Kopan, Dan Koepang.
Dari Beberapa Catatan Sejarah Yang Sempat Terungkap Menuliskan Bahwa
Keberadaan Pulau Timor Sudah Dikenal Sejak Abad Ketujuh, Hal Ini Mungkin
Saja Disebabkan Karena Kayu Cendana Yang Ada Di Pulau Timor Ini Yang
Memamng Dikenal Berkualitas Baik. Masih Juga Mengacu Pada Catatan Yang
Sama, Bahwa Waktu Itu Banyak Sekali Pedagang Dari Malaka, Gujarat, Jawa
Dan Makasar, Serta Pedagang Dari Negri Cina Yang Telah Melakukan Kontak
Dagang Secara Langsung Dengan Raja-Raja Yang Saat Itu Menjadi Penguasa
Di Timor, Yang Sudah Pasti Sangat Mengawasi Penebangan Kayu Cendana Di
Daerah Pedalaman Pulau Timor Ini.
Didalam Sebuah Dokumen Cina Yang Ditulis Oleh Chau Ju Kua, Mencatatkan
Bahwa, Pada Masa Itu Pulau Timor Biasa Disebut Dengan Nama Tiwu, Adalah
Sebuah Kawasan Yang Terkenal Sangat Kaya Dengan Kayu Cendana. Di Zaman
Kekuasaan Kerajaan Hindu-Jawa, Kerajaan Kediri Telah Mampu Melakukan
Hubungan Dagang Atau Juga Barter Dengan Raja-Raja Di Wilayah Timor, Atau
Bisa Juga Raja-Raja Taklukan Yang Berada Di Pulau Timor Membayar Upeti
Mereka Dengan Menggunakan Kayu Cendana Kepada Raja Di Kediri. Seperti
Halnya Didalam Buku Negarakertagama, Mencatat Bahwa Wilayah Timor
Kepulauan Yang Saat Itu Terkenal Dengan Hasil Cendananya, Adalah Juga
Termasuk Dalam Wilayah Kekuasaan Majapahit.
Masih Ada Juga Sebuah Catatan Cina Yang Ditulis Oleh Hsing-Cha Shenglan,
Menyebutkan Bahwa Di Kih-Ri Timun (Diyakini Sebagai Pulau Timor) Waktu
Itu Terdapat Dua Belas Tempat Penampungan Kayu Cendana, Disebut Dengan
Twelve Ports Ormercantile Establisment, Each Under A Chief (Dua Belas
Pelabuhan/Kelompok Kegiatan Perdagangan, Yang Masing-Masing Dibawah
Pengawasan Seorang Pemimpin). Adapun Duabelas Tempat Tersebut Antara
Lain Adalah: Kupang, Naikliu, Oekusi, Atapupu, Betun, Boking, Kolbano,
Bitan, Elo Abi, Bijeli, Oepoli, Dan Nefokoko. Dari Ke Dua Belas Tempat
Inilah Pedagang Cina Dan Jawa Kemungkinan Mengangkut Kayu Cendana Ke
Kediri, Sumatra (Sriwijaya), Jazirah Melayu (Malaka), Dan Wilayah Asia
Lainnya. Sejak Itu Timor Dikenal Dengan Nama Timor Pulau Cendana. Sistem
Perdagangan Yang Digunakan Ketika Itu Pun Masih Menggunakan Sistem
Barter, Dengan Barang Pengganti Seperti Tembikar, Manik, Sutera,
Barang-Barang Atau Peralatan Dari Besi Yakni Sebangsa Kapak, Parang,
Pisau Dan Sebagainya.
Ketika Portugis Berhasil Merebut Goa, Yaitu Sebuah Wilayah Di Pantai
Barat India Tengah, Dan Pada Tahun 1511 Berhasil Pula Merebut Malaka
Yang Ketika Itu Menjadi Pusat Perdagangan Asia Tenggara, Maka Untuk Misi
Perdagangan Dan Agama, Portugis Kemudian Melakukan Ekspansi Ke Arah
Timur, Yakni Maluku Yang Termasyur Karena Rempah-Rempahnya, Dan Solor
(Flores) Yang Termasyur Dengan Kayu Cendananya. Masih Di Tahun 1511,
Armada Ferdinand Magellan (Terdiri Atas Dua Buah Kapal) Singgah Di Alor
Dan Timor (Kupang). Dalam Penyeberangan Ke Selat Pukuafu, Kedua Kapal
Ini Tertimpa Badai, Salah Satu Kapal Karam Dan Hancur. Salah Satu
Jangkar Raksasa Kapal Ini Hingga Kini Masih Ada Di Pantai Rote. Satu
Lainnya Berhasil Lolos Dari Amukan Ombak Melanjutkan Perjalanan Ke Sabu,
Kemudian Ke Tanjung Harapan Dan Kembali Ke Spanyol. Karena Lolos Dari
Amukan Gelombang Di Pantai Rote Itu, Maka Kapal Tersebut Dikenal Dengan
Nama Kapal Victory.
Hal Ini Juga Terjadi Di Zaman VOC Sampai Dengan VOC Dibubarkan Pada
Tahun 1799, Dimana Kemudian Segala Hak Dan Kewajiban Indonesia Diambil
Alih Oleh Pemerintah Belanda. Peralihan Ini Sudah Tentu Tidak Membawa
Perubahan Apapun, Karena Pada Waktu Itu Balanda Di Negaranya Tengah
Menghadapi Perang Yang Dilancarkan Oleh Negara Tetangga Mereka Perancis.
Belanda Waktu Itu Masih Dikuasai Oleh Pemerintah Boneka Dari Kekaisaran
Perancis Dibawah Napoleon. Keadaan Ini Dimanfaatkan Dengan Baik Oleh
Kerajaan Inggris Untuk Memperluas Jajahannya Dengan Merebut Wilayah
Jajahan Belanda.
Armada Inggrispun Mengganggu Semua Daerah Kekuasaan Belanda Di
Indonesia, Sehingga Pada Tahun 1799 Hampir Seluruh Wilayah Indonesia
(Kecuali Jawa, Palembang, Banjarmasin Dan Timor) Sepenuhnya Berada Dalam
Kekuasaan Inggris. Dua Kapal Inggris Memasuki Pelabuhan Kupang Pada 10
Juni 1797, Namun Berhasil Dipukul Mundur Oleh Greving Yang Mengarahkan
Pada Mardijkers. Kira-Kira Tahun 1800, Komisaris Fiskal Bernama Doser
Diutus Dari Makasar Ke Kupang Untuk Menyelidiki Keadaan Keuangan VOC.
Akan Tetapi Ketika Doser Sampai Di Kupang Ia Segera Diperintahkan Untuk
Kembali Dan Tugasnya Diambil Alih Oleh Pejabat Lain Yang Bernama
Lofsteth. Namun Tak Berapa Lama Kemudian Lofsteth Meninggal. Posisi Ini
Kemudian Digantikan Oleh Hazart, Seorang Belanda Yang Diyakini Lahir Di
Kupang Tahun 1773. Dibawah Kepemimpinannya Belanda Berhasil Membatasi
Wilayah Gerak Portugis Sampai Awal Abad XIX. Penguasaan Ini Akhirnya
Berdampak Terhadap Kehidupan Agama Dan Kultural Di Timor. Kupang Dan
Sekitarnya (Pulau Timor Bagian Barat) Lebih Banyak Memeluk Agama Kristen
Dengan Bahasa Dan Dialek Yang Sangat Kental Dengan Pengaruh Bahasa
Belanda. Contoh Kata Tidak Dalam Bahasa Kupang Adalah Sonde Dari Kata
Sonder Dalam Bahasa Belanda. Semakin Ke Arah Timor Menuju Kabupaten
Belu-Atambua (Perbatasan Timor Leste) Mayoritas Penduduk Memeluk Agama
Katholik Dengan Pengaruh Bahasa Dari Portugis. Namun Di Daerah Pesisir,
Dimana Dahulu Banyak Bermukim Pedagang Islam Dari Gujarat, Pakistan Dan
Sekitarnya Masih Banyak Memeluk Agama Islam.
Pada Masa Sesudah Tahun 1900, Kerajaan-Kerajaan Yang Ada Di NTT (Nusa Tenggara Timur)
Pada Umumnya Telah Berubah Status Menjadi Swapraja. Swapraja-Swapraja
Tersebut, 10 Berada Di Pulau Timor ( Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang,
Molo, Amanuban, Amanatun, Mio Mafo, Biboki, Insana) Satu Di Pulau Rote,
Satu Di Pulau Sabu, 15 Di Pulau Sumba ( Kanatang, Lewa-Kanbera,
Takundung, Melolo, Rendi Mangili, Wei Jelu, Masukaren, Laura, Waijewa,
Kodi-Laula, Memboro, Umbu Ratunggay, Ana Kalang, Wanokaka, Lambaja),
Sembilan Di Pulau Flores (Ende, Lio, Larantuka, Adonara, Sikka, Angada,
Riung, Nage Keo, Manggarai), Tujuh Di Pulau Alor-Pantar (Alor, Baranusa,
Pantar, Matahari Naik, Kolana, Batu Lolang, Purema). Swapraja-Swapraja
Tersebut Terbagi Lagi Menjadi Bagian-Bagian Yang Wilayahnya Lebih Kecil.
Wilayah-Wilayah Kecil Itu Disebut Kafetoran-Kafetoran Yang Biasanya
Dipimpin Oleh Seorang Fetor.
Wilayah Nusa Tenggara Timur Pada Waktu Itu Merupakan Wilayah Hukum Dari
Keresidenan Timor Dan Daerah Takluknya. Keresidenan Timor Dan Daerah
Bagian Barat (Timor Indonesia Pada Waktu Itu, Flores, Sumba, Sumbawa
Serta Pulau-Pulau Kecil Sekitarnya Seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar,
Lomblen, Adonara, Solor). Keresidenan Timor Dan Daerah Takluknya
Berpusat Di Kupang, Yang Memiliki Wilayah Terdiri Dari Tiga Affdeling
(Timor, Flores, Sumba Dan Sumbawa), 15 Onderafdeeling Dan 48 Swapraja.
Afdeeling Timor Dan Pulau-Pulau Terdiri Dari 6 Onderafdeeling Dengan
Ibukotanya Di Kupang. Afdeeling Flores Terdiri Dari 5 Onder Afdeeling
Dengan Ibukotanya Di Ende. Yang Ketiga Adalah Afdeeling Sumbawa Dan
Sumba Dengan Ibukota Di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa Dan Sumba Ini
Tediri Dari 4 Oder Afdeeling.
Keresidenan Timor Dan Daerah Takluknya Dipimpin Oleh Seorang Residen,
Sedangkan Afdeeling Di Pimpin Oleh Seorang Asisten Residen. Asisten
Residen Ini Membawahi Kontrolir Atau Controleur Dan Geraghebber Sebagai
Pemimpin Onder Afdeeling. Asisten Residen, Kontrolir Dan Gezaghebber
Adalah Pamong Praja Kolonial Belanda. Para Kepala Onder Afdeeling Yakni
Kontrolir Dibantu Oleh Pamong Praja Bumi Putra Ber Pangkat Bestuurs
Assistant.
Sampai Pada Tanggal 8 Maret 1942 Ketika Komando Angkatan Perang Belanda
Di Indonesia Menyerah Kepada Jepang. Dengan Demikian Secara Resmi Jepang
Menggantikan Belanda Sebagai Pemegang Kekuasaan Di Indonesia. Untuk
Indonesia Bagian Timur Termasuk Wilayah Indonesia. Bagian Timur Wilayah
NTT Berada Di Bawah Kekuasaan Angkatan Laut Jepang (Kaigun) Yang
Berkedudukan Di Makasar. Adapun Dalam Rangka Menjalankan Pemerintahan Di
Daerah Yang Diduduki Kaigun Menyusun Pemerintahannya. Untuk Wilayah
Indonesia Bagian Timur Dikepalai Oleh Minseifu Yang Berkedudukan Di
Makasar. Di Bawah Minseifu Adalah Minseibu Yang Untuk Daerah Nusa
Tenggara Timur Termasuk Ke Dalam Sjoo Sunda Shu (Sunda Kecil) Yang
Berada Di Bawah Pimpinan Minseifu Cokan Yang Berkedudukan Di Singaraja.
Disamping Minseibu Cokan Terdapat Dewan Perwakilan Rakyat Yang Disebut
Syoo Sunda Sukai Yin. Dewan Ini Juga Berpusat Di Singaraja. Diantaranya
Anggota Dewan Ini Yang Berasal Dari Nusa Tenggara Timur Adalah Raja
Amarasi H.A. Koroh Dan I.H. Doko. Untuk Pemerintahan Di Daerah-Daerah
Nampaknya Tidak Banyak Mengalami Perubahan, Hanya Istilah-Istilah Saja
Yang Dirubah. Bekas Wilayah Afdeeling Dirubah Menjadi Ken Dan Di NTT Ada
Tiga Ken Yakni Timor Ken, Flores Ken Dan Sumba Ken. Ken Ini
Masing-Masing Dikepalai Oleh Ken Kanrikan. Sedangkan Tiap Ken Terdiri
Dari Beberapa Bunken (Sama Dengan Wilayah Onder Afdeeling) Yang
Dikepalai Dengan Bunken Karikan. Di Bawah Wilayah Bunken Adalah
Swapraja-Swapraja Yang Dikepalai Oleh Raja-Raja Dan Pemerintahan
Swapraja Ke Bawah Sampai Ke Rakyat Tidak Mengalami Perubahan.
Setelah Jepang Menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) Di
Kupang Memutuskan Untuk Menyerahkan Pemerintahan Atas Kota Kupang Kepada
Tiga Orang Yakni Dr.A.Gakeler Sebagai Walikota, Tom Pello Dan I.H.Doko.
Namun Hal Ini Tidak Berlangsung Lama, Karena Pasukan NICA Segera
Mengambil Alih Pemerintahan Sipil Di NTT, Dimana Susunan Pemerintahan
Dan Pejabat-Pejabatnya Sebagian Besar Adalah Pejabat Belanda Sebelum
Perang Dunia II. Dengan Demikian NTT Kembali Menjadi Daerah Kekuasaan
Belanda Lagi, Sistem Pemerintahan Sebelum Masa Perang Ditegakkan
Kembali. Pada Tahun 1945 Kaum Pergerakan Secara Sembunyi-Sembunyi Telah
Mengetahui Perjuangan Republik Indonesia Melalui Radio. Oleh Karena Itu
Kaum Pegerakan Menghidupkan Kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor
Yang Berdiri Sejak Tahun 1937 Dan Kemudian Berubah Menjadi Partai
Demokrasi Indonesia (PDI).
Perjuangan Politik Terus Berlanjut, Sampai Pada Tahun 1950 Dimulai Fase
Baru Dengan Dihapusnya Dewan Raja-Raja. Pada Bulan Mei 1951 Menteri
Dalam Negeri NIT Mengangkat Y.S. Amalo Menjadi Kepala Daerah Timor Dan
Kepulauannya Menggantikan H.A.Koroh Yang Wafat Pada Tanggal 30 Maret
1951. Pada Waktu Itu Daerah NTT (Nusa Tenggara Timur)
Termasuk Dalam Wilayah Propinsi Sunda Kecil. Berdasarkan Atas Keinginan
Serta Hasrat Dari Rakyat Daerah Nusa Tenggara, Dalam Bentuk Resolusi,
Mosi, Pernyataan Dan Delegasi-Delegasi Kepada Pemerintahan Pusat Dan
Panitia Pembagian Daerah Yang Dibentuk Dengan Keputusan Presiden No.202/
1956 Perihal Nusa Tenggara, Pemerintah Berpendapat Suda Tiba Saatnya
Untuk Membagi Daerah Propinsi Nusa Tenggara Termasuk Dalam Peraturan
Pemerintahan RIS No. 21 Tahun 1950, (Lembaran Negara RIS Tahun 1950
No.59) Menjadi Tiga Daerah Tingkat I Dimaksud Oleh Undang-Undang No.I
Tahun 1957. Akhirnya Berdasarkan Undang-Undang No.64/1958 Propinsi Nusa
Tenggara Di Pecah Menjadi Daerah Swa Tantra Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat Dan NTT (Nusa Tenggara Timur). Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Meliputi Daerah Flores, Sumba Dan Timor.
Berdasarkan Undang-Undang No.69/ 1958 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah
Tingkat II Dalam Wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat Dan NTT (Nusa Tenggara Timur), Maka Daerah Swa Tantra Tingkat I NTT (Nusa Tenggara Timur)
Dibagi Menjadi 12 Daerah Swatantra Tingkat II ( Monografi NTT, 1975,
Hal. 297). Adapun Daerah Swatantra Tingkat II Yang Ada Tersebut Adalah :
Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur,
Alor, Kupang, Timo Tengah Selatan, Timor Tengah Utara Dan Belu. Dengan
Keluarnya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Daswati I NTT (Nusa Tenggara Timur) Tertanggal 28 Februari 1962 No.Pem.66/1/2 Yo Tanggal 2 Juli 1962 Tentang Pembentukan Kecamatan Di Daerah Swatantra Tingkat I NTT (Nusa Tenggara Timur),
Maka Secara De Facto Mulai Tanggal 1Juli 1962 Swapraja-Swapraja
Dihapuskan (Monografi NTT, Ibid, Hal. 306). Sedangkan Secara De Jure
Baru Mulai Tanggal 1 September 1965 Dengan Berlakunya Undang-Undang No.
18 Tahun 1965 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Pada Saat Itu
Juga Sebutan Daerah Swatantra Tingkat I NTT (Nusa Tenggara Timur) Dirubah Menjadi Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur), Sedangkan Daerah Swatantra Tingkat II Dirubah Menjadi Kabupaten.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTT (Nusa Tenggara Timur) Di Kupang, Tanggal 20 Juli 1963 No.66/1/32 Mengenai Pembentukan Kecamatan , Maka Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur)
Dengan 12 Daerah Tingkat II Dibagi Menjadi 90 Kecamatan Dan 4.555 Desa
Tradisional, Yakni Desa Yang Bersifat Kesatuan Geneologis Yang Kemudian
Dirubah Menjadi Desa Gaya Baru. Pada Tahun 2003 Wilayah Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur)
Terdiri Dari 16 Kabupaten Dan Satu Kota . Kabupaten-Kabupaten Dan Kota
Tersebut Adalah : Sumba Barat, Sumba Timur, Kupang, Timor Tengah
Selatan, Timor Tengah Utara , Belu, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka,
Ende, Angada, Manggarai, Rote Ndao, Manggarai Barat Dan Kota Kupang.
Dari 16 Kabupaten Dan Satu Kota Tersebut Terbagi Dalam 197 Kecamatan Dan
2.585 Desa/Kelurahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar